<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492</id><updated>2010-02-15T10:15:38.758-08:00</updated><title type='text'>Blog Fidelis Harefa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-2385958438990122883</id><published>2009-09-10T07:25:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:34:59.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Bulan Kitab Suci Nasional 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://gerejasmtb.files.wordpress.com/2008/09/pcu1672.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://gerejasmtb.files.wordpress.com/2008/09/pcu1672.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan September 2009 ini, Gereja Katolik memasuki Bulan Kitab Suci Nasioanl. Sebagaimana biasanya, para pemimpin Gereja mengajukan agar umat meluangkan waktu yang lebih banyak lagi dibandingkan dengan hari-hari lainnya untuk mendalami Kitab Suci. Tema BKSN 2009 mengetengahkan "Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia dijabarkan lagi dalam empat sub-tema. Dan seperti kebiasaan umat katolik, keempat sub-tema itu didalami secara bersama dalam kelompok melalui pendalaman Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pertama dengan mengetengahkan tema: "Pergumulan Yakub dengan Esau". Topik ini ingin mengatakan kepada kita bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan BERKAT itu. Yang menjadi soal adalah bagaimana kita menanggapi berkat itu, apakah menganggapnya sepele atau biasa-biasa saja. Bagaimana partisipasi kita untuk menyambut rahmat tersebut dan bagaimana kita menjaga agar berkat tersebut berbuah. Tokoh Yakub dan Esau adalah dua tokoh yang menanggapi BERKAT itu secara berbeda. Diawali dari sebuah tindakan "menganggap tidak berguna hak kesulungan" yang dimiliki oleh Esau dan akhirnya dijual kepada Yakub demi semangkok kacang merah. Hak kesulungan membawa serta paket-paket rahmat lainnya yang dalam topik ini disampaikan oleh Ishak pada Yakub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kedua, mengajak kita untuk ikut dalam pengalaman Yakub bertemu dengan Allah. Pertemuan dengan Allah boleh terjadi di mana saja. Tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana kita mengalami Allah secara lebih kuat. Yakub memberikan model bagi kita untuk melihat hal itu lebih jelas dalam kehidupan kita sekarang ini. Rumah Tuhan, Gereja tempat kita mengalami Allah secara lebih kuat. Meskipun ada tempat lain yang bisa memungkinkan kita mengalami Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan ketiga, Yakub mengalami kesulitan dan tantangan dalam kehidupan sosial. Pengalaman cinta, hak dan pengakuan yang menuntut pengorbanan. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan dalam perjuangan itu kita tetap diingatkan pada janji Allah, yakni sebuah tempat idaman, tanah terjanji yang telah disediakan oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan keempat menegaskan kemanuasiaan Yakub. Rasa takut tidak terobati dengan menghindar atau melarikan diri. Rasa takut tetap ada kalau dihadapi hanya dengan cara melarikan diri dari kenyataan. Segala persoalan harus dihadapi dan diselesaikan dalam dan bersama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa butir pendalaman diatas adalah salah satu bentuk refleksi yang masih mungkin lebih kaya, bila bapak, ibu, saudara sendiri yang bergumul dengan Allah bersama pengalamannya Yakub, bapak segala bangsa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-2385958438990122883?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/2385958438990122883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/bulan-kitab-suci-nasional-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2385958438990122883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2385958438990122883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/bulan-kitab-suci-nasional-2009.html' title='Bulan Kitab Suci Nasional 2009'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-4818565156024459603</id><published>2009-08-15T13:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:37:50.913-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Rahasia Di Balik Mantra: Membangun Manusia Pembangun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ahmadmakki.files.wordpress.com/2009/01/cover-buku-pendidikan-yang-memerdekakan-siswa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://ahmadmakki.files.wordpress.com/2009/01/cover-buku-pendidikan-yang-memerdekakan-siswa1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Motto ini adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna luar biasa. Sepintas kita terjemahkan, “membentuk manusia-manusia yang bersifat membangun”, “memberdayakan manusia-manusia yang kemudian akan memberdayakan manusia-manusia lain”. Dari ungkapan ini, masih banyak lagi uraian kalimat yang mungkin bisa diungkapkan untuk mengartikan motto yang sangat menarik ini.&lt;br /&gt;Sebuah motto, bila diperjuangkan dan benar-benar dilaksanakan akan dikatakan sebagai petuah atau mantra yang berhasil dan teruji. Tapi bila hanya diungkapkan sebatas kata-kata, menurut saya tidak ada artinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang menggunakan istilah ini. Barangkali hanya dengan sedikit perbedaan kata, tapi mempunyai makna dan tujuan yang sama. Misalnya: “Membangun Manusia Pembangun”, “Mendidik Anak Bangsa”, “Memanusiakan Manusia”, dan banyak lagi istilah-istilah yang puitis yang bertujuan menggugah setiap insan pendidikan untuk mewujudkan manusia-manusia yang berkualitas.&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang diharapkan dan ditegaskan dalam ungkapan-ungkapan ini? Sumber Daya Manusia (SDM) adalah utama dan terutama dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang berkualitas. Jika lebih difokuskan lagi, misalnya pada lembaga-lembaga pendidikan swasta, maka SDM itu adalah semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan sebuah lembaga pendidikan formal, mulai dari Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, Guru, Pegawai hingga karyawan kantin. Bagi semua yang terlibat dalam pengelolaan ini berlaku standar yang sama demi terjaminnya kualitas pendidikan. Standar itu harus objektif, transparan, sahih, dan berlaku secara sistematik mulai dari saat rekrutmen, SK pengangkatan hingga SK pemberhentian. Dengan standar ini, pemimpin tak bisa lagi seenaknya menilai bawahan sementara dirinya sendiri imun terhadap bentuk penilaian apa pun. (John de Santo: Educare No. 3/VI/Juni 2009, hal. 25).&lt;br /&gt;Membangun Manusia Pembangun, Mendidik Anak Bangsa atau istilah lain yang dipakai untuk ungkapan mantra pendidikan semuanya tidak berguna kalau SDM itu tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membangun manusia yang sanggup membangun di masa depan, sementara SDM kita saat ini tidak dilatih, tidak diperkaya, tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membentuk manusia-manusia yang tangguh di masa depan, namun saat ini kita dikelilingi oleh manusia-manusia yang berkarakter “YES MAN” dan tidak punya visi dalam menjalankan pendidikan. Kita berteriak untuk menasehati tenaga pendidik kita, sementara kita sendiri tertutup terhadap hal-hal baru yang berkembang, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, untuk apa kita mengumandangkan slogan-slogan yang hanya membuat banyak orang menertawakan diri kita sendiri? Untuk apa kita bekerja kalau ujung-ujungnya hanya memperjuangkan popularitas diri dan tidak memperhatikan kepentingan orang banyak?&lt;br /&gt;Tugas kita saat ini adalah membangun manusia yang sungguh-sungguh sanggup mandiri, bertanggung jawab dan punya visi di masa yang akan datang. Bukan membentuk manusia-manusia yang bermental “yes man” yang bisa terombang-ambing dalam menghadapi masalah kehidupan. Dan perlu diingat, kunci utama dari terlaksananya semuanya ini bukan UANG. Uang hanya sebagai penunjang terlaksananya proses pendidikan. Yang menjadi kunci utama adalah SDM baik pengelola, pendidik sampai kepada peserta didik.&lt;br /&gt;Kita tidak perlu muluk-muluk membangun gedung megah, sementara mutu pendidikan kita pas-pasan. Jika demikian, kita hanya membuka celah bagi orang lain untuk terlibat dalam kebodohan kita dan ikut membodohkan kita.&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan kita saat ini, masih banyak yang menjadikan pemimpin sebagai kunci keberhasilan. Mengapa? Selain mental bawahan sebagai manusia yang takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan masa depan, juga karena pemimpin tidak tahu bagaimana harus memimpin dan mengelola.&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh John de Santo, staf Pengajar ASMI Santa Maria Yogyakarta tentang SDM dan Kepemimpinan dalam Educare No. 3/VI/Juni 2009 adalah tepat. SDM adalah syarat primer bagi terciptanya pendidikan bermutu. Namun SDM yang berkualitas harus dibarengi dengan kepemimpinan yang cerdas untuk memanfaatkannya.&lt;br /&gt;Idealnya pemimpin puncak sebuah lembaga pendidikan formal seharusnya tumbuh dari bawah. Ia adalah bagian dari riwayat perjalanan lembaga pendidikan itu dan hasil akhir dari proses evolutif seleksi alamiah. Mengadopsi cara pandang Darwinian, pemimpin adalah puncak evolusi yang mengenal satu hukum: survival for the fittest.&lt;br /&gt;Sebaliknya, legalitas kepemimpinan berdasarkan top down appointment, selain tidak menjamin tercapainya pendidikan bermutu, dapat membahayakan keseimbangan organisasi. Siapa pun dia, bukan bagian dari proses evolusi sebuah organisasi. Untuk menutup kelemahan sang pemimpin karbitan, menciptakan mekanisme pertahanan diri. Pembebek dan penghitung laba memetik keuntungan dengan mengiyakan kemauan pemimpin. Mereka menyuguhkan informasi yang menyenangkan hati. Pemimpin akan kehilangan sense of rality, merasa dirinya selalu benar. Tak ada lagi sistem yang bisa mengendalikannya karena ia adalah sistem itu sendiri. Kualitas pendidikan hanya utopia.&lt;br /&gt;Tulisan John de Santo barangkali bisa menjadi sarana mujarab untuk mengoreksi sistem pendidikan kita saat ini, terlebih-lebih bagi lembaga pendidikan swasta dan secara khusus pada sistem pendidikan katolik. Kita harus yakin bahwa pepatah: “Tiada Gading yang Tak Retak” yang sudah lama bergema dalam tradisi kita benar. Karena, sebesar apapun kepercayaan diri kita mengatakan bahwa kita benar, tetap juga tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Dan sebagai cara paling ampuh untuk membenahi itu adalah evaluasi yang jujur dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-4818565156024459603?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/4818565156024459603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/rahasia-di-balik-mantra-membangun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4818565156024459603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4818565156024459603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/rahasia-di-balik-mantra-membangun.html' title='Rahasia Di Balik Mantra: Membangun Manusia Pembangun'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-2121623704553007</id><published>2009-08-15T13:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:40:49.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Perubahan Itu Perlu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://renoirma.files.wordpress.com/2008/12/ngm1997-11p301.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://renoirma.files.wordpress.com/2008/12/ngm1997-11p301.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul ini bukan merupakan sebuah ungkapan biasa. Bukan pula seperti kata-kata iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Ungkapan di atas merupakan sebuah keharusan untuk saat ini.&lt;br /&gt;Yang menjadi permasalahan sekarang adalah kesulitan segelintir orang menghadapi perubahan. Barangkali terbentur masalah ketidak-siapan mental menghadapi perubahan itu sendiri. Bisa juga ada hubungannya dengan rasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang menantang perubahan itu terjadi. Berbagai alasan bisa muncul. Kalimat-kalimat yang dominan barangkali seperti ini: “Kalau kami dulu…..”, “Kami sudah terbiasa begini koq…”, “Kami bisa begini koq, ngapain harus ada perubahan…”.&lt;br /&gt;Memang sebuah perubahan membutuhkan pengorbanan, juga membutuhkan perjuangan. Tidak segampang mengatakanya untuk melakukannya. Menurut saya, sebuah perubahan hanya terjadi bila setiap orang sanggup melakukan evaluasi dan penilaian terhadap apa yang selama ini terjadi, apa yang selama ini berlaku. Bila setiap orang tidak sanggup mengevaluasi dan tidak bijak untuk memberi penilaian akan masa lalu, inilah orang-orang yang cenderung mempertahankan status quo dan tidak ingin maju.&lt;br /&gt;Bia seseorang tidak mendambakan perubahan, itu artinya orang itu mengurung diri dalam keterbelakangan dan tidak membuka mata untuk perkembangan zaman. Dan bila orang ini hadir dalam sebuah organisasi atau instansi apa pun, apalagi kalau dia bertindak sebagai penanggung jawab, saya berani mengatakan bahwa organisasi tersebut tidak akan berkembang. Boleh dikatakan organisasi tersebut lambat-laun akan makin ketinggalan.&lt;br /&gt;Mengapa susah untuk berubah? Andai saja membuka diri, membuka pikiran, dan mendengarkan, perubahan itu gampang koq. Perubahan itu sudah menjadi milik. Tapi kalau poin-poin tersebut di atas sulit dilaksanakan, perubahan pun semakin jauh dari kita.&lt;br /&gt;Di negara ini, kita harus bisa menjadi orang yang visioner, bukan menjadi orang yang hanya sebagai “YES MAN” aja. Kita harus punya prinsip dalam hidup sehingga kita tidak menderita dalam keadaan yang tidak menentu.&lt;br /&gt;Ingin sebuah perubahan? Harus keluar dari egoisme kita, keluar dari tahta popularitas yang memperbudak, keluar dari lingkungan yang mengkotak-kotakkan antara yang mayoritas dan minoritas. Dan yang paling penting adalah, terbuka terhadap perubahan itu sendiri.&lt;br /&gt;Orang yang terbuka terhadap perubahan sanggup melihat titik terang dalam kegelapan, sanggup menyedot air bening dalam kekeruhan dan sanggup menemukan kegembiraan dalam suasana gundah gulana. Apakah anda termasuk orang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-2121623704553007?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/2121623704553007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/perubahan-itu-perlu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2121623704553007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2121623704553007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/perubahan-itu-perlu.html' title='Perubahan Itu Perlu'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-2251231338756254231</id><published>2009-08-15T13:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:43:38.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Statis VS Dinamis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/cart/waiting_game_kfk_copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/cart/waiting_game_kfk_copy.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dunia kita sekarang ini sedang dilanda problem yang sangat dilematis. Di segala bidang kehidupan ada saja konflik yang kerap kali mendatangkan kerugian bahkan kehancuran. Bila diteliti lebih jauh dan lebih spesifik akar dari masalah yang ada lebih sering berujung pada perbedaan pendapat dan orientasi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab dari masalah-masalah yang ada adalah “rasa nyaman yang tertanggu bahkan akan hilang”. Setiap orang mendambakan kenyamanan (save) dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan keluarga, kerja dan bahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut pendapat banyak orang di zaman digital dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, rasa nyaman itu diganggu oleh ketidak siapan menghadapi perubahan yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;Perubahan memang selalu terjadi. Itu pertanda bahwa kehidupan kita ini dinamis dan menembus segala permanensi yang terbentuk dalam pikiran dan lingkungan kita. Kebiasaan-kebiasaan yang rasanya membuat kita nyaman, meskipun sesungguhnya tidak relevan lagi akan selalu diperthankan demi sebuah kenyamanan dan menantang segala perubahan yang terbungkus dalam dinamisnya hidup seiring perkembangan zaman.&lt;br /&gt;Statis VS Dinamis merupakan istilah sederhana yang saya kemukakan sebagai sebuah ilustrasi dari sebuah keadaan tidak nyaman. Ketika seseorang merasa terancam oleh situasi dan perkembangan, maka penolakan pun muncul ke permukaan dengan berbagai bentuk. Setiap orang yang melihat ada hal baru yang akan membuat dia tidak nyaman akan masuk ke dalam dunia rasionalisasi untuk membenarkan pola statis yang selama ini cukup nyaman.&lt;br /&gt;Peralihan dunia kita saat ini, dari dunia yang serba manual ke dunia digital mengancam banyak kenyamanan manusia. Mengapa tidak? Banyak hal yang dulunya dikerjakan oleh 10 atau 15 orang dengan waktu yang cukup lama, kini dapat dikerjakan oleh satu atau dua orang dalam waktu yang relatif singkat. Efeknya, perkembangan tidak bisa dibendung lagi dan terus terjadi dalam prosesnya yang dinamis. Orang yang menutup mata dan tidak mau menceburkan diri dalam perubahan itulah yang sering merasa kehilangan rasa aman. Bagaimana kita mengaktualkan masalah ini dalam pola kerja dan pendidikan kita? Gampang. Hanya dengan mengikuti perkembangan dan memahami perkembangan itu sendiri. Meninggalkan pola kita yang statis (tidak perlu mempertahankan status quo) demi sebuah kemajuan. Meskipun sulit karena keterbatasan menerima perubahan tersebut, akan tetapi suatu kebanggaan dan jiwa besar bila kita melihat perubahan itu lebih baik dibandingkan dengan sebuah ketetapan yang tidak berefek banyak dalam meraih sebuah kesuksesan.&lt;br /&gt;Pola pendidikan kita yang dulunya kaku, harus dibenahi dan terus dibenahi untuk menjawab kebutuhan zaman sekarang, termasuk kebutuhan peserta didik, bila kita seorang pendidik. Pola kerja kita yang kaku dan menyita banyak waktu dan melalui birokrasi yang panjang (bila kita seorang pekerja kantoran), hendaknya diobah juga agar kita tidak disebut GAPTEK bahkan istilah popular untuk itu adalah TELMI. Apakah kita harus mempertentangankan STATUS QUO dengan sebuah DINAMIS? Bila kita menjawab “ya” maka kita tidak usah malu kalau kita disebut kuno. Bila kita menjawa “tidak perlu”, berarti anda tidak jauh dari kerajaan surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-2251231338756254231?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/2251231338756254231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/statis-vs-dinamis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2251231338756254231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/2251231338756254231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/statis-vs-dinamis.html' title='Statis VS Dinamis'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-1984222720031065896</id><published>2009-08-15T13:31:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:50:23.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pemahaman Tentang Berkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://wb9.itrademarket.com/pdimage/20/1257820_nasilanggi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://wb9.itrademarket.com/pdimage/20/1257820_nasilanggi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gereja sebagai sakramen induk bukanlah barang mati dan statis. Jemaah Kristen merupakan suatu masyarakat manusia yang dinamis. Ia mempertahankan, mewujudkan dan memperluas dirinya dengan berbagai kegiatan dan tindakan Kristus. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak semua tindakan yang dengannya Gereja merealisasikan dirinya dalam Gereja sebagai “sakramen penyelamatan” (sakramen induk), meskipun barangkali, ditinjau dari segi lain, sama penting dan perlu, supaya Gereja direalisasikan secara menyeluruh. Dengan lain perkataan “sakramentalitas” Gereja dapat menjadi terwujud dengan pelbagai tingkat. Meskipun semua “sakramental”, namun tidak semua menjadi “sakramen”, mungkin hanya termasuk pada bagian sakramentali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://fidelharmony.googlepages.com/MicrosoftWord-BERKAT.pdf"&gt;Download artikel ini lebih lengkap&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-1984222720031065896?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/1984222720031065896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/pemahaman-tentang-berkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/1984222720031065896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/1984222720031065896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/pemahaman-tentang-berkat.html' title='Pemahaman Tentang Berkat'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-1274233107690237326</id><published>2009-08-15T11:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T08:54:16.521-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Memaknai Penderitaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sammymamoto.blog.friendster.com/files/8_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://sammymamoto.blog.friendster.com/files/8_1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kitab Suci Kristen melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.&lt;br /&gt;Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan refleksif di atas tadi mengajak kita untuk mencoba mengerti dan memahami makna penderitaan di bumi dan bagaimana iman Gereja berbicara tentang penderitaan manusia di bumi. Penderitaan bagi kebanyakan orang selalu dihubungkan dengan dosa (hukuman Tuhan) sedangkan sebagian lagi memahami penderitaan secara positif yakni sebagai batu uji menuju keselamatan.&lt;br /&gt;Beberapa Pandangan Tentang Penderitaan&lt;br /&gt;Menurut Kitab Suci, penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikehendaki baik berhubungan dengan fisik maupun psikis. Penderitaan ini bisa mencakup penderitaan fisik, emosional, penderitaan karena orang lain atau demi orang lain. Mengapa manusia menderita? Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama melukiskan bahwa penderitaan tidak dikehendaki Allah. Dasar biblisnya yakni Kej. 3:1-24 yang mengungkapkan bahwa Allah pencipta tidak menghendaki adanya penderitaan. Demikian juga dengan Kej. 1:1-2:4.a yang mengatakan bahwa, Allah melihat bahwa semuanya baik. Penderitaan dan kematian justru ada setelah manusia jatuh dalam dosa dan diusir oleh Allah dari Taman Eden (Firdaus) Kej. 2:4.a-3:24.&lt;br /&gt;Penderitaan dalam arti umum dan mendasar merupakan bagian dari penderitaan manusia. Penderitaan itu mencakup keseluruhan hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani (somatis-psikologis karena antara keduanya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain lain). Dari kaca mata psiko-spiritual melihat bahwa penderitaan jasmani tidak melulu hanya disebabkan oleh hal-hal atau faktor fisik melulu tetapi juga dipengaruhi sikap hidup, perasaan, relasi dan konflik.&lt;br /&gt;Maka benar apa yang dikatakan Plato bahwa kesalahan besar pengobatan sakit jasmani adalah bahwa dokter melalaikan keseluruhan. Hubungan erat antara sakit jasmani dan rohani ini juga diakui oleh beberapa responden yang pernah kami wawancarai. Misalnya sakit kanker, demam berdarah, akan selalu mempunyai efek lain pada kondisi emosional, kondisi psikologisnya.&lt;br /&gt;Belajar dari kebijaksanaan zaman dulu bahwa kesehatan yang benar dan sejati tercapai apabila orang hidup dalam harmonis dengan dirinya, orang lain dan lingkunganya dan tetap bersikap seimbang menhadapi perubahan-perubahan dan tantangan dan mengembangkan kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Atau dengan kata lain, sehat mencakup keseluruhan dan utuh (wholeness).&lt;br /&gt;Penderitaan sendiri pada dirinya tidak pernah baik tetapi menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyembuhkannya. Penderitaan mestinya diterima sebagai sumber kekuatan untuk mentransformasi diri dan membiarkan penderitaan itu meragi diri kita.&lt;br /&gt;Yesus sendiri menerima salib, penderitaan dan kematianNya dan akhirnya menjadi saluran cinta yang membebaskan. Maka bagi orang kristen salib yang diterima seharusnya menjadi sarana yang membebaskan. Dan dengan salib itu, kita juga membiarkan kekuatan yang sama mengalir. Memang tidak semua penderitaan adalah salib tetapi setiap penderitaan dapat ditebus oleh salib.&lt;br /&gt;Pandangan moral katolik cenderung memahami penderitaan dalam kaitannya dengan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia. Penderitaan tidaklah semata-mata karena kelemahan biologis manusiawi tetapi juga terjadi karena dosa.&lt;br /&gt;Setelah memahami beberapa pandangan tentang penderitaan di atas, apakah pandangan kita tentang penderitaan itu sendiri? Adakah kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa-dosa kita? Adakah kita melihat penderitaan sebagai sebuah ketidakadilan dari pihak Allah? Adakah penderitaan kita lihat sebagai awal sesuatu yang baru? Apakah Tuhan menciptakan penderitaan?&lt;br /&gt;Saya kira jawabannya tetap menjadi suatu misteri. Namun untuk mengerti hal ini, kita mesti memahami ungkapan dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi, terang dan gelap, kebaikan dan penderitaan. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu, Allah berkuasa atas seluruh jagat raya dan yang ditekankan lagi yakni ke-Esa-an Allah. Ungkapan pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan privelege Allah. Ini berarti penderitaan itu sendiri misteri yang hanya dapat dimengerti dan diselami dengan hati penuh iman akan kasih Tuhan yang senantiasa berlimpah untuk manusia.&lt;br /&gt;Memaknai Penderitaan&lt;br /&gt;Kalau penderitaan sebagai akibat dari dosa dan atau sebagai bagian dari kehidupan manusia seperti dituturkan di atas, apakah kita menerima atau menolak penderitaan begitu saja?&lt;br /&gt;Penderitaan tidak hanya bernilai negatif melainkan juga mengandung nilai positif. Nilai positifnya: penderitaan merupakan sarana pendidikan. Allah memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan, orang dituntun kembali pada kebahagiaan dan kesetiaan. Penderitaan juga berperan sebagai batu uji untuk memurnikan manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Melalui pendertiaan, Allah mengharapkan manusia untuk merubah pola laku dan untuk makin paham akan nilai atau makna cinta dan kehidupan.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, setiap penderitaan, sakit dan atau musibah yang terjadi dapat menjadi koreksi bagi setiap orang. Koreksi akan apa yang pernah dilakukan di masa yang lalu demi masa depan yang lebih baik. Orang yang berpikir jernih dan profesional tidak perlu melemparkan kesalahan kepada orang lain kalau menemui kesulitan. Tidak perlu mencari tumbal, yang menjadi korban sebagai pelampiasan amarah, rasa kecewa atau sakit hati. Karena, berbuat demikian, bukannya mengurangi penderitaan tetapi malah semakin masuk ke dalam penderitaan itu dan hidup dalam kecemasan dan kegelisahan batin yang tak henti-hentinya.&lt;br /&gt;Penderitaan bisa saja datang dalam berbagai bentuk yang sederhana. Saat harga diri terancam, saat keinginan kita tidak tercapai, saat ada orang yang menghambat kecenderungan kita, saat ada orang yang mengetahui dan mengorek kesalahan kita, dll. Semua itu datang dalam porsinya masing-masing. Menutup mata dan diri terhadap semua itu tidak membawa perubahan, malah akan membawa ke kehancuran yang kekal dan pada akhirnya jatuh dan malu.&lt;br /&gt;Masalah, musibah, penyakit dan aneka macam hal yang merugikan dapat dilihat sebagai acuan untuk mengoreksi diri. Perlu pembuktian dan menggali maknanya. Yang disayangkan adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama dalam melihat penderitaan.&lt;br /&gt;Berhadapan dengan pengalaman derita manusia atas penderitaan, Gereja ditantang untuk menunjukkan sikap yang benar dan tepat. Gereja mesti mengikuti teladan Yesus yang dengan murah hati melayani dan menyembuhkan orang sakit dan menderita. Meneladani jiwa dan teologi kegembalaan Yesus yang mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, bukan membiarkan atau mengusirnya. Gereja mesti menunjukkan diri sebagai sarana keselamatan dengan menjalankan Tugas Gereja Membimbing, Memimpin, dan Menguduskan melalui pelayanan sakramen-sakramen, khususnya sakramen-sakramen Penyembuhan (Pengurapan dan Tobat).**(fidelis harefa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-1274233107690237326?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/1274233107690237326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/kitab-suci-kristren-melukiskan-bahwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/1274233107690237326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/1274233107690237326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/08/kitab-suci-kristren-melukiskan-bahwa.html' title='Memaknai Penderitaan'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-7706105772967172022</id><published>2009-08-01T10:11:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:22:55.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Hakikat Pendidikan</title><content type='html'>Pendahuluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti sepakat bahwa pendidikan bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, terlebih lagi karena kita bergerak di bidang pendidikan. Juga pasti kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan itu dialami oleh semua manusia dari semua golongan. Tetapi seringkali, orang melupakan makna dan hakikat pendidikan itu sendiri. Layaknya hal lain yang sudah menjadi rutinitas, cenderung terlupakan makna dasar dan hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu benarlah kalau dikatakan bahwa setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan sepatutnya selalu merenungkan makna dan hakikat pendidikan, merefleksikannya di tengah-tengah tindakan/aksi dalam dunia yang digelutinya dan melakukan tindakan/aksi sebagai buah refleksinya. Dengan singkat, dapat kita katakan hal ini sebagai pendidikan dalam praxis atau praxis dalam pendidikan.&lt;br /&gt;Pengertian pendidikan.&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa ada banyak definisi pendidikan. Ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting, sehingga banyak pihak yang merasa perlu untuk memberikan definisi — pengertian atau memaknainya. Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu : ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan – Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah “subyek” dari — pendidikan. Karena merupakan subyek di dalam pendidikan, maka dituntut suatu tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang baik. Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi. Maksudnya adalah, manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk “ada” sebagai dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Apakah hasil pendidikan itu? Yang jelas ada perubahan pada subyek-subyek pendidikan itu sendiri. Katakanlah dengan bahasa yang sederhana demikian, ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tetapi perubahan-perubahan yang terjadi setelah proses pendidikan itu tentu saja tidak sesempit itu. Bukankah perubahan-perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan rohani juga?&lt;br /&gt;Melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan. Dari kesadarannya itu mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.&lt;br /&gt;Masalah seputar pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang “sakit” ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu.&lt;br /&gt;Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sisten pendidikan yang ada.&lt;br /&gt;Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia — siap pakai”. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi. Memperhatikan secara kritis hal tersebut, akan nampak bahwa dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau komponen pendukung industri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;Masalah kedua adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai pengisi dan murid sebagai yang diisi. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru.&lt;br /&gt;Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.&lt;br /&gt;Yang ketiga, dari model pendidikan yang demikian maka manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan. Melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita. Mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya dan situasi masyarakat lain? Dalam hal ini, makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan untuk direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran permasalahan-permasalahan yang terjadi di seputar pendidikan kita.&lt;br /&gt;Kembali ke hakikatnya : Pendidikan Yang Membebaskan.&lt;br /&gt;Henri J.M. Nouwen menyebutkan proses pendidikan/pengajaran yang muncul dalam masalah-masalah di seputar pendidikan yang penulis sebutkan tadi sebagai akibat dari jalannya pengajaran yang diwarnai kekerasan. Menurutnya ada tiga ciri dari pengajaran sebagai proses yang diwarnai kekerasan, yaitu : persaingan, satu arah dan mengasingkan. Proses pengajaran yang diwarnai kekerasan itu menurut Nouwen dapat merusak hakikat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Nouwen membuat suatu model pendidikan/pengajaran yang disebutnya “Pengajaran sebagai proses yang membebaskan”. Model tersebut berpijak pada tiga hal, yaitu : evokatif, dua arah dan mengaktualisasikan.&lt;br /&gt;1. Evokatif&lt;br /&gt;Persaingan sebagai salah satu ciri dari proses pengajaran yang diwarnai kekerasan, merupakam salah satu yang merusak sistem pendidikan yang ada. Persaingan menyebabkan cara pandang murid terhadap kawannya dan gurunya menjadi salah. Akibatnya, persaingan dapat menimbulkan perasaan takut yang dapat melumpuhkan pada diri seorang siswa karena hasil yang mereka capai. Ketakutan ini membuat banyak peserta didik terlalu peka dan cenderung curiga terhadap kawan atau guru mereka. Perasaan takut membuat mereka rendah diri, mempertahankan diri dalam hubungan dengan orang lain, was-was akan kemungkinan gagal serta ragu-ragu untuk mengambil resiko atau untuk mengerjakan hal-hal yang baru dan tidak terduga.&lt;br /&gt;Karena perasaan takut, persaingan menjadi hambatan besar dalam perkembangan kepribadian yang utuh. Namun di dalam pendidikan yang membebaskan, hubungan guru-murid bersifat membebaskan yaitu masing-masing pihak mencoba untuk membangkitkan kemampuan yang dimiliki oleh pihak yang lain dan menjadikannya dapat tersedia satu bagi yang lain. Kalau seorang murid menghendaki seorang guru maka dia harus memberikan kebebasan kepada orang itu untuk menjadi gurunya dengan membagikan pengalamannya sebagai sumber pemahaman dan pengertian. Di dalam diskusi kelas pun murid dapat menawarkan pengalaman hidup mereka kepada guru dan kawan-kawan, sehingga dalam hal ini persaingan tidak ada lagi, dan guru bukanlah hakim yang menakutkan akan tetapi orang yang diberi kesempatan menjadi guru dan mendorong murid agar semakin terbuka untuk belajar. Dalam pengertian ini, guru juga menjadi seorang sahabat bagi murid.&lt;br /&gt;2. Dua Arah&lt;br /&gt;Kalau dalam pengajaran yang diwarnai proses kekerasan sistemnya adalah satu arah, yaitu murid hanya menerima apa yang dikatakan oleh guru, maka dalam proses yang membebaskan/pengajaran yang membebaskan terjadi dalam dua arah. Guru belajar dari murid dan murid juga belajar dari guru. Guru dan murid adalah teman seperjalanan mencari yang benar, bernilai dan sahih (dapat dipertanggung jawabkan) dan yang saling memberikan kesempatan untuk berperan satu terhadap yang lain. Guru tidak perlu takut kalau murid lebih mengerti daripada dirinya dan tidak perlu merasa kehilangan kehormatan, karena justru dengan demikian mereka telah membebaskan murid dari perasaan takut dan memberikan kepada murid kebebasan untuk berkembang.&lt;br /&gt;3. Mengaktualisasikan&lt;br /&gt;Pengajaran bukannya untuk mengasingkan, dengan mengarahkan kesadaran peserta didik keluar dari diri mereka sendiri dan menjauh dari hubungannya yang langsung dengan kenyataan saat ini dalam dirinya dan lingkungannya.&lt;br /&gt;Akan tetapi pengajaran harus mengaktualisasikan. Artinya, kalau belajar dalam pengertian tertentu merupakan persiapan untuk hidup di masa depan, maka hanya dapat terjadi demikian kalau masa depan itu menjadi nyata dalam hubungan pengajaran sekarang dan di sini. Untuk membangun dunia yang lebih baik, awal dari dunia itu harus tampak dalam hidup sehari-hari. Tidak ada alasan untuk mengharapkan akan terjadi banyak hal di masa depan kalau tanda-tanda harapan itu tidak ditampakkan pada masa kini. Kita tidak dapat berbicara mengenai cara-cara untuk membawa damai dan pembebasan kalau kita tidak dapat menyimpulkannya dari pengalaman kita sendiri mengenai damai dan kebebasan yang kita alami sekarang dan di sini, di dalam dunia dan sistem pendidikan kita. Kita tidak dapat melibatkan diri pada perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kasih dalam masyarakat yang akan datang, kalau kita tidak dapat menemukan benih-benih keadilan dan kasih itu dalam keterlibatan kita sekarang dan dalam pelaksanaan sistem pendidikan kita.&lt;br /&gt;Sekolah, sebagai bagian dari sistem pendidikan, adalah tempat di mana persaudaraan dapat dialami, di mana orang dapat hidup bersama tanpa merasa takut satu sama lain dan belajar didasarkan pada pertukaran pengalaman dan gagasan yang kreatif. Oleh karena itu bagi mereka yang selesai sekolah, akan mempunyai keinginan yang semakin besar untuk membawa apa yang mereka alami selama bertahun-tahun di sekolah ke dunia yang lebih luas. Sekolah bukanlah arena latihan untuk mempersiapkan orang masuk ke dalam kekerasan masyarakat (yang keras), tetapi merupakan tempat di mana masyarakat yang merdeka dapat dicoba dibangun dan ditawarkan kepada dunia modern, sebagai gaya hidup yang lain.&lt;br /&gt;Seiring dengan apa yang dikemukakan Nouwen, Paulo Freire memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Semua itu merupakan “syarat” utama (sesuatu yang harus ada terlebih dahulu) bagi berjalannya suatu dialog. Suatu bentuk perjumpaan diantara sesama manusia, dengan perantaraan dunia, dalam rangka menamai dunia dalam arti menyadari kenyataan dunianya, kenyataan masyarakat serta lingkungannya. Dengan kata lain, pendidikan membentuk manusia yang memiliki kepekaan dan kesadaran sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan “menamai dunia” itu sendiri merupakan wujud dari kesadaran yang akhirnya akan diikuti oleh tindakan untuk memperbarui dunia agar lebih baik lagi bagi hidup manusia.&lt;br /&gt;Penutup.&lt;br /&gt;Sampai di ujung refleksi kita ini, satu hal yang nampak mengemuka adalah betapa ideal dan agungnya pendidikan itu (selagi kita tidak membuatnya menyimpang). Namun sebagaimana hal lainnya yang ideal dan agung, acapkali mengerutkan dahi kita dan tanpa sadar menggerakkan otot dada kita untuk menghela napas agak panjang. Mengapa? Ada dua kemungkinan untuk menjawab hal tersebut.&lt;br /&gt;Pertama, kita merasa bahwa hal tersebut terlalu ideal, tidak realistis, terlalu mengada-ada, sehingga sangat sulit dan berat untuk dilaksanakan. Kemungkinan kedua, kita mengakui kebenaran dari apa yang baru saja kita baca dan refleksikan, lalu hal itu menggugah kita dan memberikan semangat untuk mulai bertindak, walaupun sadar itu sulit.&lt;br /&gt;Nah, kita termasuk dalam kemungkinan yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.R. Kurniadi, S.Th.&lt;br /&gt;Staf P4 Bidang Kerohanian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-7706105772967172022?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/7706105772967172022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/pendahuluan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7706105772967172022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7706105772967172022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/pendahuluan.html' title='Hakikat Pendidikan'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-7532985545443539731</id><published>2009-08-01T10:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:14:09.163-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'></title><content type='html'>Peran Kepala Sekolah dan Guru dalam KBK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh INE HERMIATI, S.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik aktif mengembangkan potensi. Utamanya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU SPN Tahun 2003).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian pendidikan itu, penulis simpulkan, pendidikan proses memanusiakan manusia melalui pembelajaran dalam bentuk aktualisasi potensi menjadi suatu kemampuan atau kompetensi. Kemampuan yang harus dimiliki, (1) nilai-nilai kegamaan; (2) kompetensi akademik; dan (3) kompetensi motorik. Konsep pendidikan berbasis kompetensi butuh program pembelajaran berbasis kompetensi. Karena itu, kurikulum harus didasarkan kompetensi lulusan, yakni standar isi dan standar proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum tahun 2004, yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), merupakan perangkat rencana dan pengaturan kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya, KBK berorientasi pada (1) hasil dan implikasi yang diharapkan muncul pada diri peserta didik; (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai kebutuhan. Rumusan kompetensi dalam KBM merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa setiap tingkatan kelas dan satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tujuan utama KBK memberdayakan sekolah mengembangkan kompetensi peserta didik, sesuai lingkungan sekolah berada. Untuk itu, sedikitnya ada lima perbedaan peserta didik dalam implementasi KBK. Yakni tingkat kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, kebutuhan, dan perkembangan kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBK memberi peluang bagi kepala sekolah, guru dan peserta didik berinovasi dan improvisasi, terkait masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial. Diharapkan sekolah dapat melakukan proses pembelajaran efektif, mencapai tujuan, materi relevan dengan kebutuhan masyarakat, berorientasi pada hasil dan dampak, serta melakukan penilaian dan pengawasan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran kepala sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan KBK sangat ditentukan oleh kepala sekolah mengoordinasikan, menggerakkan, dan menyelaraskan semua sumber daya pendidikan. Kepemimpinannya sebagai faktor pendorong untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, termasuk sasaran. Karena itu, ia dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah, perencanaan dan evaluasi program, kurikulum, pembelajaran, pengelolaan personalia, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan dengan masyarakat, dan penciptaan iklim kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kepala sekolah, guru merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi keberhasilan implementasi KBK, bahkan menentukan berhasil-tidaknya peserta didik. Dalam implementasi KBK, kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi. Segi proses, guru dikatakan berhasil jika mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri. Dari segi hasil, guru dikatakan berhasil jika pembelajaran mampu mengubah perilaku sebagian besar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar guru dapat mengimplementasikan KBK secara efektif, guru harus memiliki hal-hal berikut: (1) menguasai dan memahami bahan pelajaran dan hubungannya dengan bahan pelajaran lain dengan baik; (2) menyukai apa yang diajarkan dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi; (3) memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan, dan prestasinya; (4) menggunakan metode bervariasi; (5) mampu mengeliminasi bahan pelajaran; (6) mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi; (7) merencanakan proses pembelajaran; (8) memotivasi siswa memperoleh hasil belajar lebih baik; dan (9) menghubungkan pengalaman yang lalu dengan bahan yang akan diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru perlu memahami, semua manusia (siswa) dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan. Mereka memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Karena itu, tugas utama guru bagaimana mengondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa, sehingga tumbuh minat dan semangat untuk terus belajar.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, guru SMP Negeri 51 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-7532985545443539731?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/7532985545443539731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/peran-kepala-sekolah-dan-guru-dalam-kbk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7532985545443539731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7532985545443539731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/09/peran-kepala-sekolah-dan-guru-dalam-kbk.html' title=''/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-4546420052581646824</id><published>2009-05-13T10:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:59:47.756-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>CALEG-ku: Ambisi, Harta, Popularitas atau apa sih?</title><content type='html'>Sehari setelah Pemilihan Umum, 10 April 2009, saya sedang bersantai di beranda rumah menikmati udara segar. Duh, tiba-tiba kaget mendengar berita: “CALEG, si XY (samaran) sedang dalam perjalanan ke rumah sakit”, demikian kata tetangga sebelah memberitahukan saya. Saya menanggapi informasi itu biasa-biasa saja. Bahkan boleh dikatakan saya memilih sikap cuek aja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejam kemudian, berita yang sama datang lagi, tapi CALEG yang berbeda. Yang ini lebih parah. Bunuh diri karena cita-cita menjadi CALEG tidak tercapai. Duh, kasihan kamu wahai CALEG-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa ini membuat kita prihatin. Prihatin dalam banyak hal. Demikian banyaknya orang berlomba-lomba untuk masuk dalam jajaran CALEG. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Ada yang bergembira karena berhasil, ada juga yang stress karena gagal. Ada yang sabar meskipun gagal, ada bunuh diri karena kecewa. Tapi kenapa? Menjadi CALEG itu menjanjikan lembah duit atau nirwana kejayaankah? Menjadi CALEG itu menjanjikan kuasa yang tak terbataskah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah PEMILU ini memberi warna dan gambaran dunia CALEG kita saat ini. Warna dan gambaran ini berlaku untuk yang menang dan yang gagal, sebab pada awalnya, perjuangan menjadi CALEG memiliki motivasi yang sama sekaligus berbeda. (apa pula ini?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita berpikir. Apakah ini yang kita harapkan pada masa akan datang? Apakah bentuk seperti ini yang kita suarakan dan kita perjuangkan? Aduh, CALEG-ku: Ambisi, Harta, Popularitas atau apa sih yang sebenarnya diperjuangkan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-4546420052581646824?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/4546420052581646824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/05/caleg-ku-ambisi-harta-popularitas-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4546420052581646824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4546420052581646824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2009/05/caleg-ku-ambisi-harta-popularitas-atau.html' title='CALEG-ku: Ambisi, Harta, Popularitas atau apa sih?'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-7949359186512424431</id><published>2008-08-13T10:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:25:26.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>UAN Dalam Prespektif Desentralisasi Pendidikan</title><content type='html'>Ketika UU No. 22/1999 dan No. 25/1999 diberlakukan dan disusul dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional tentang sistem manajemen berbasis sekolah dan pemberian kewenangan terhadap daerah (bahkan sekolah) dalam mengelola pendidikan, timbul secercah harapan akan semakin membaiknya pembangunan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Model pembangunan pendidikan yang sangat bersifat sentralistik dan monolitik serta menafikan perbedaan, secara drastis mestinya berubah menjadi desentralistik dan pluralistik sehingga kepentingan dan kebutuhan serta potensi dan kemampuan daerah menjadi lebih terperhatikan dan terbangkitkan. Dengan desentralisasi pendidikan yang direpresentasikan melalui model pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah dan Manajemen Berbasis Masyarakat, segenap komponen sekolah menjadi semakin berperan. Penyusunan kurikulum nasional yang mengabaikan akar budaya dan kebutuhan masyarakat setempat, dengan pemberian kewenangan besar kepada daerah, mestinya tidak akan terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian kewenangan yang besar kepada para guru melalui manajemen berbasis sekolah dan kurikulum berbasis kompetensi pun diasumsikan akan mengembalikan harga diri dan rasa percaya diri pada guru yang di masa lalu sangat terpuruk akibat sistem yang bersifat sangat instruktif. Akan tetapi, melihat kebijakan Depdiknas akhir-akhir ini, harapan yang mulai timbul tampaknya akan layu sebelum berkembang. Salah satu contoh yang paling aktual adalah pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang penuh kontroversial. UAN sebagai alat uji bagi siswa kelas terakhir ALTP dan SMU/SMK dalam kenyataannya tidak lain merupakan manifestasi keengganan pusat melepaskan kewenangannya dalam pengelolaan pendidikan. Celakanya, keengganan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan yang cukup sehingga muncullah kebijakan kontroversial yang sangat membingungkan menyangkut hal-hal seperti soal ujian ulang dan hak siswa tak lulus ujian untuk melanjutkan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ujian, evaluasi bermakna penilaian secara terus-menerus, komprehensif, dan berkelanjutan terhadap kemampuan siswa selama belajar di sekolah dan merupakan bagian integral dari proses pembelajaran di sekolah. Dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi, Depdiknas sendiri menggariskan bahwa penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan. Penilaian berkelanjutan mengacu kepada penilaian yang dilaksanakan oleh guru itu sendiri dengan proses penilaian yang dilakukan secara transparan. Penilaian dilakukan secara komprehensif dan mencakup aspek kompetensi akademik dan keterampilan hidup. Proses perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan penilaian dilaksanakan oleh para guru dengan penanggung jawab Kepala Sekolah sehingga kinerja seluruh komponen sekolah benar-benar dinilai dan kemampuan guru merancang, memilih alat evaluasi, menyusun soal, dan memberi penilaian benar-benar diuji. Dari sisi siswa, evaluasi jelas akan merupakan sebuah proses yang ‘biasa’ yang tidak memerlukan persiapan khusus yang menyita seluruh energinya karena evaluasi tersebut dijalankan oleh sekolahnya, gurunya, dan yang terpenting bahan evaluasi adalah apa yang telah diperoleh selama proses pembelajaran. UAN yang menempatkan Pusat sebagai otoritas yang berwewenang secara penuh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan tindak lanjutnya melalui SPO (Standar Prosedur Operasional) yang sangat rinci dan ketat. Dibandingkan dengan EBTANAS yang masih memperhitungkan nilai yang diperoleh siswa pada semester-semester sebelumnya dalam penentuan nilai kelulusan, model UAN sekarang menempatkan nilai UAN murni sebagai satu-satunya nilai penentu kelulusan siswa. Padahal, semasa EBTANAS diberlakukan, segenap komponen pendidikan seolah diburu untuk mengejar pencapaian nilai EBTANAS murni yang tinggi sehingga semua daya dan dana benar-benar terkuras. Dapat dibayangkan apa yang terjadi sekarang dengan evaluasi model UAN. Belum lagi dengan kebijakan-kebijakan yang saling bertentangan perihal pemahaman ‘lulus’ dan ‘tamat’ yang diberlakukan Depdiknas hanya karena ketidakmampuannya mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan UAN yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan prinsip evaluasi dibebani tujuan dan fungsi yang sangat penting SK 017/U/2003 menyebutkan tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa; mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah; dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, provinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah, kepada masyarakat. Kemudian, UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional; pendorong peningkatan mutu pendidikan; bahan dalam menentukan kelulusan siswa; dan bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tujuan dan fungsi tersebut tidak berbeda jauh dengan fungsi EBTANAS dulu, tujuan dan fungsi yang tampaknya tidak pernah dievaluasi, bahkan beberapa sebetulnya tak berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu tujuan dan fungsi UAN yang berhubungan dengan mutu, misalnya. Sejauh ma na hasil UAN (sebelumnya selama bertahun-tahun hasil EBTANAS) digunakan sebagai pendorong peningkatan mutu. Selama ini hasil EBTANAS sampai dengan UAN dari tahun ke tahun tidak pernah meningkat secara signifikan. Kegunaan hasil UAN sebagai pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pun nyatanya tidak pernah terlaksana. Lulusan SLTP tetap harus mengikuti tes masuk SLTA dan lulusan SLTA pun tetap harus mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari pemberdayaan guru dan siswa, UAN sama sekali tidak berguna. Otoritas guru untuk merencanakan, menyusun, dan memberikan penilaian kepada siswa-siswanya sebagai bagian integral dari tugasnya telah direbut. Seperti di masa-masa lalu guru tetap tidak dipercaya mampu melakukan tugasnya dengan baik. UAN lalu menjadi semacam pusat perhatian dalam proses pembelajaran. Dan, seperti juga EBTANAS di masa lalu, seluruh proses pembelajaran dipusatkan kepada upaya untuk sukses dalam UAN sehingga hakikat proses pembelajaran menjadi terabaikan. Mestinya UAN yang jelas-jelas bertentangan secara diametral dengan prinsip-prinsip desentralisasi pendidikan dan menghabiskan dana yang lumayan besar mulai tahun depan dihapus saja. Biarkan sekolah mengevaluasi sendiri hasil kerjanya. Kalau Pemerintah ingin melakukan kontrol terhadap kualitas pendidikan dapat saja setiap tahun terhadap siswa-siswa setiap kelas di semua jenjang pendidikan diberikan semacam tes standar dengan pemilihan sekolah peserta tes diambil dengan cara random sample di tiap daerah yang dianggap dapat mewakili rata-rata nasional. Tes standar semacam ini selain untuk mengetahui kualitas pendidikan juga dapat dijadikan semacam tes diagnostik untuk ditindaklanjuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Ki Gunawan&lt;br /&gt;Saya Pengamat di Yogyakarta&lt;br /&gt;Tanggal: 12 Juli 2003&lt;br /&gt;Judul Artikel: UAN Dalam Perspektif Desentralisasi Pendidikan&lt;br /&gt;Topik: Sistem Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-7949359186512424431?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/7949359186512424431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/uan-dalam-prespektif-desentralisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7949359186512424431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7949359186512424431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/uan-dalam-prespektif-desentralisasi.html' title='UAN Dalam Prespektif Desentralisasi Pendidikan'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-7273647731933353758</id><published>2008-08-13T10:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:21:32.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menghadapi UAN</title><content type='html'>Jika penulis ditanya apa yang harus dilakukan jika karena sesuatu hal siswa atau siswi di manapun mereka berada terpaksa diharuskan untuk menghafal mata pelajaran dengan sistim SKS (sistem kebut semalam)? Tanpa ragu penulis akan berkata, gunakan teknik “encapsulation”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penulis akan menyajikan sebuah kisah nyata. Tulisan ini diambil dari tulisan berbahasa Inggris berjudul Why Object Oriented Programming Makes Sense? yang juga dimuat dalam situs ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lelaki duduk di sebuah sofa kira-kira satu jam lamanya, mencoba untuk menghafal tugas sekolah yang terdiri dari satu kalimat yang panjang, sembilan puluh lima kata dan lima ratus dua puluh tiga huruf. Anak laki-laki itu yang duduk di kelas tiga SD tidak bisa menahan lagi. Itu tampak sekali dari kegelisahannya bahwa dia tidak dapat mengatasinya. Untuk mengeluarkan segala kegundahannya, dia menangis begitu keras sehingga akhirnya terpaksa ayahnya turun tangan menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya membawanya ke ruangan lain dan mencoba menenangkan anak itu. Setelah anak itu berhenti menangis, ayahnya menggambar delapan simbol dan menghubungkan masing-masing simbol dengan kata-kata yang ada dalam kalimat itu. Seperti sebuah pertunjukan sulap, anak itu begitu mudahnya menghafal kalimat panjang itu hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Ayahnya kemudian berkata, “Lihat, kamu adalah anak yang pintar.” Anak itu berkata dengan rendah hati, “ Ah bukan, itu karena Ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tidak mempunyai keterangan ilmiah bagaimana otak kita bekerja tetapi saya tahu bahwa otak kita membutuhkan sesuatu untuk menghubungkan satu hal dengan hal-hal yang lain, satu kata dalam bahasa Inggris yang bisa menerangkan itu adalah “encapsulation”. Saya akan memberikan definisi “Encapsulate” dari Oxford Advanced Learner’s Dictionary, “To express the most important parts of something in a few words, a small space or a single object.” Untuk mengekspresikan bagian penting dari sesuatu dengan kata yang pendek, ruangan yang kecil atau objek tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menyimak cerita di atas dengan teliti, penulis sengaja menulis jumlah huruf dari kalimat itu. Misalkan pembaca diharuskan menghafal semua huruf dengan menggabungkan semua kata menjadi hanya satu kata, apakah ada orang yang bisa menghafal kata itu. Itu hal yang sulit dilakukan. Tetapi dengan memisahkan 523 huruf menjadi 95 kata yang mempunyai arti, tugas itu jauh lebih mudah. Dengan menghubungkan 95 kata-kata itu ke hanya 8 simbol, tugas itu akan jauh lebih mudah. Kata “ encapsulation” adalah kata yang penulis dapatkan dari bidang ilmu pemograman berbasis objek. Tetapi kata “encapsulation” tidak hanya berguna di bidang pemrograman berbasis objek tetapi bisa diterapkan untuk menghafal dan belajar di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai percobaan, dapatkah anda menghafal huruf yang terdapat dalam kata ini: iamgoingtobedearlybecauseimustgetupearlyinthemorning? Sekarang coba memecahkan kata ini menjadi beberapa kata: I am going to bed early because I must get up early in the morning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu masih SMA, ada seorang murid yang terkenal nakal dan membuat sebuah singkatan untuk menghafal unsur kimia dengan membuat sebuah kalimat seperti ini : “Beni manggil ca?? suruh Ba?? Rasain.“ ca?? tebak sendiri apa kata itu. Ba?? Adalah nama kepala sekolah SMA kami waktu itu. Hanya kolom di daftar unsur kimia itu yang penulis masih ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan sedikit informasi agar bisa menerapkan teknik “encapsulation” untuk kepentingan belajar menghadapi ujian akhir nasional. Tetapi mudah-mudahan tulisan ini tidak membuat siswa siswi selalu terbiasa dengan SKS (sistem kebut semalam). Untuk kepentingan jangka panjang teknik yang terbukti ampuh dalam belajar adalah: You do it bit by bit dan Speed Reading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata penulis ingin mengucapkan kepada siswa siswi, orang tua yang anaknya akan menghadapi ujian akhir nasional atau guru-guru pembimbing, “sukses menempuh ujian akhir nasional”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hermawih Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk artikel lainnya yang berhubungan dengan teknik belajar, silakan lihat Sukses dalam Belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-7273647731933353758?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/7273647731933353758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/menghadapi-uan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7273647731933353758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/7273647731933353758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/menghadapi-uan.html' title='Menghadapi UAN'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-3224451194055819283</id><published>2008-08-13T10:16:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:22:16.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Ketika UAN Menjadi Keharusan</title><content type='html'>SETAHUN yang lalu saya pernah menulis artikel di koran ini yang isinya mempertanyakan beberapa hal mengenai ujian akhir nasional atau UAN. Kesimpulan saya waktu itu: UAN dapat bermanfaat jika ia dilihat lebih sebagai assessment atas standar pendidikan di Indonesia, bukan sebagai alat evaluasi proses pembelajaran. Atau, kalaupun mau dipakai sebagai alat evaluasi, hendaknya ia tak dijadikan (satu-satunya) penentu kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kurikulum, mata pelajaran, materi soal-soal ujian nasional (UN), dan cara penilaian mesti diperbaiki. Saya tulis artikel ini untuk mempertegas pandangan saya itu dan menempatkannya dalam perdebatan mutakhir mengenai masalah ini. Meminjam istilah yang dipakai dalam “Tajuk Rencana” Kompas (Sabtu, 5/2/2005), demi make the best of it. Maka, kritik terhadap UN dalam artikel ini harus dilihat sebagai bahan untuk mendapatkan format assessment dan evaluasi yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum yang lain-lain, barangkali sejak awal kita perlu bertanya: setelah sekian puluh tahun UAN, ebtanas, atau apa pun namanya, dilaksanakan di negeri kita, apakah mutu pendidikan kita sebagai bangsa memang membaik? Saya kira semua orang akan sepakat bahwa jawabannya negatif, dilihat dari segi akademik maupun karakter (akhlak). Juga, dalam hal inovasi, kreasi, tanggung jawab sosial, disiplin, dan hal-hal lain yang justru merupakan tujuan puncak semua proses pendidikan. Belum lagi jika kita kaitkan dengan kemampuan kompetisi kita secara internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA dua hal yang bisa disimpulkan dari sini : Pertama, tak ada yang tak setuju-termasuk para penentang UN- bahwa kita harus punya semangat bekerja keras kalau mau sukses. Persoalannya, apa betul UN (sendirian) bisa membuat orang bekerja keras? Setiap orang yang terlibat langsung di dunia pendidikan tahu bahwa yang terjadi dengan adanya UN adalah justru manipulasi nilai. Maka, jangan-jangan, bukan saja berbagai bentuk ujian nasional gagal meningkatkan semangat bekerja keras dan prestasi akademik, ia malah “sukses” dalam meningkatkan kemerosotan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, peningkatan mutu akademik terletak bukan hanya pada UN, melainkan juga pada banyak sekali aspek lain yang harus digarap secara telaten dan dalam jangka panjang, baik aspek-aspek yang terkait langsung dengan pendidikan ataupun dengan kehidupan bangsa kita secara lebih luas. Selama kualitas pendidikan dan pelatihan guru buruk, gaji guru kecil, sarana pendidikan miskin, manajemen sekolah amburadul, kurikulum tak tepat guna, korupsi merajalela-sehingga dunia pendidikan pun korup, buku teks masuk sekolah lewat jalan menyuap, sekolah cukup memberi pelicin untuk dapat akreditasi baik, dan lulusan sekolah tak merasa perlu berkualitas karena toh dengan nyogok bisa sukses juga dalam hidup-dan masih amat banyak lagi faktor, UN tak akan banyak bermanfaat, kalau tak malah merugikan. Memang tak ada jalan pintas dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sistem kelulusan (semata-mata) berdasarkan UN secara frontal bertentangan dengan prinsip penilaian berbasis portofolio yang menjadi salah satu kelebihan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang didengung-dengungkan. Sebaliknya, dari menempatkan seluruh kinerja dan karya siswa selama jangka waktu pendidikan sebagai dasar penilaian, menjadikan sekali-dua UN sebagai penentu kelulusan justru membuyarkan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah pentingnya adalah persoalan kualitas soal UN. Boleh jadi, soal seperti apa pun-selama ia memiliki tingkat kesulitan yang tinggi-akan bisa menyaring yang punya kengototan belajar dari yang tidak. Tapi, tak berarti ia bisa menghasilkan siswa-siswa terbaik. Apakah yang berhak lulus dengan nilai bagus adalah memang siswa-siswa yang menguasai hafalan dan berbagai materi akademik dalam kurikulum kita yang amat mubazir beban, sebagaimana biasa diujikan dalam berbagai bentuk ujian nasional selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah siswa-siswa yang mampu lulus ujian sejenis SAT (standard aptitude test) dan memiliki prestasi di bidang olahraga, musik, komunikasi, kemampuan riset dan kreatif, serta berbagai kemampuan nonkognitif lainnya, sebagaimana yang selama ini telah diterapkan di negara-negara maju, seperti di AS dan Eropa? Belum lagi kalau kita masukkan faktor-faktor leadership, tanggung jawab sosial, dan berbagai aspek karakter lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar keberatan terhadap UN ini saya kira masih bisa diperpanjang. Nah, apakah dengan demikian UN tidak perlu? Jawabannya, bisa saja masih perlu. Pertama sebagai alat assessment kualitas pendidikan kita. Atau, kalau mau dijadikan alat evaluasi proses belajar juga, perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: pertama, UN tidak ditempatkan sedemikian sehingga secara sendirian menentukan kelulusan. Kedua, materi soal-soal UN dirancang sedemikian sehingga tepat dan relevan dengan tujuan pendidikan kita. Ketiga, kalau UN memang mau dipertahankan, soal-soal UN jangan hanya mencakup tiga mata pelajaran, tapi semua saja pelajaran, plus faktor-faktor yang saya sebutkan di atas. (Kenapa mesti tiga itu saja yang dianggap penting? Mana itu segala perbincangan tentang pendekatan multiple intelligences yang juga menjadi salah satu andalan KBK?). Keempat, cara evaluasi mesti memberikan tempat yang sama pentingnya terhadap ranah afektif (sikap) dan psikomotorik (praktik), di samping kognitif (mental).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIRNYA, sebuah usulan tambahan. Saya kira lebih banyak perhatian perlu diberikan kepada ujian masuk perguruan tinggi (inilah yang, antara lain, diterapkan di AS-yang sebagian besar negara bagian di negeri ini yang, setahu saya, tak punya UN-dan beberapa negara lain yang lebih maju dari kita). Semua tujuan UN bisa dicapai melalui ujian masuk PT, plus beberapa manfaat lain: pertama, kemungkinan terjadinya praktik-praktik korupsi dalam pelaksanaannya lebih kecil. Masih terkait dengan itu, kontrol terhadap obyektivitas lebih mungkin dilakukan. Dan, sejauh ini, di PT-PT kita, keinginan kuat untuk mendapatkan siswa terbaik saya kira masih cukup besar sehingga dapat mengendalikan berbagai kelemahan setiap sistem UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, PT saya kira masih lebih “pragmatis”-sehubungan dengan hal ketepatgunaan materi soal dan kebutuhan- dalam mencari siswa yang dianggapnya paling layak menjalani pendidikan di dalamnya. Perlu saya tambahkan di sini, sebagian PT kita sekarang sudah mulai melakukan tes dengan model yang mendekati apa yang diterapkan di LN (yakni berdasarkan rapor dan/atau cenderung berorientasi SAT). Tinggal ditambah alat lain untuk menguji berbagai kemampuan lain, seperti tersebut di atas. Dunia perguruan tinggi saya kira sudah lebih dulu menyadari kelemahan berbagai bentuk UN dibandingkan sistem pendidikan dasar dan menengah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidar Bagir Ketua Yayasan Lazuardi Hayati, Penyelenggara Pendidikan Dasar dan Menengah Lazuardi Global Islamic Schools&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-3224451194055819283?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/3224451194055819283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/pendahuluan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/3224451194055819283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/3224451194055819283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2008/08/pendahuluan.html' title='Ketika UAN Menjadi Keharusan'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-4642955077164736263</id><published>2007-07-16T10:31:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T10:32:37.137-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guest'/><title type='text'>Buku Tamu</title><content type='html'>Terima kasih atas kunjungan anda pada blog saya ini. silahkan tinggalkan pesan anda pada kotak yang telah disediakan untuk meninggalkan sedikit jejak bahwa anda pernah berkunjung di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-4642955077164736263?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/4642955077164736263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2007/07/buku-tamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4642955077164736263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/4642955077164736263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2007/07/buku-tamu.html' title='Buku Tamu'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-3763493965272553846</id><published>2005-05-13T10:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:41:20.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Rinduku Dikau Cahayaku</title><content type='html'>Gelap ….. cahayaku padam&lt;br /&gt;Malamku pekat seiring lampu terbenam&lt;br /&gt;Aku terbawa arus yang deras&lt;br /&gt;Hanyut ….. tenggelam dan tertidur pulas&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku bangga punya pikiran&lt;br /&gt;Aku bangga punya seribu satu alasan&lt;br /&gt;Aku bangga dimerdekakan&lt;br /&gt;Yang tanpa sadar diperdayakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tawaku ….gayaku…celotehku ….&lt;br /&gt;    Dan sindiranku tutup diriku&lt;br /&gt;    Aku lemah ….&lt;br /&gt;    Hanyut ….. tenggelam dan tertidur pulas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hari-hariku habis bersamamu&lt;br /&gt;    Budi malas ‘ntuk berilmu&lt;br /&gt;    Sampai lupa ‘kan diriku&lt;br /&gt;    Tuk mengabdi bangsaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    O mentari pagi …..&lt;br /&gt;    Terjanglah mimpi dan bayangku&lt;br /&gt;    Cengkramlah aku dan jangan lepaskan&lt;br /&gt;    Bangunkan dan bisikkan kata pengharapan&lt;br /&gt;    “Generasi Masa Depan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tinggallah malamku ….&lt;br /&gt;    Terang tlah datang menyambutku&lt;br /&gt;    Untuk belajar dan menuntut ilmu&lt;br /&gt;    Demi bangsaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pergilah kepongaanku …&lt;br /&gt;    Pergilah gayaku … celotehku …sindiranku …&lt;br /&gt;    Engkau hanya bayangan masa laluku&lt;br /&gt;    Engkau bukan harapanku&lt;br /&gt;    Engkau hanya kemerdekaan semu&lt;br /&gt;    Aku rindu cahayaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ide : seorang pelajar yang malas belajar dan menutupi kelemahannya itu dengan gaya hidupnya. Sikap ini bukanlah meningkatkan prestasinya sebagai pelajar harapan bangsa. Akan tetapi akhirnya ia bertobat dan menjadi cahaya bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-3763493965272553846?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/3763493965272553846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2005/05/rinduku-dikau-cahayaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/3763493965272553846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/3763493965272553846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2005/05/rinduku-dikau-cahayaku.html' title='Rinduku Dikau Cahayaku'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-393645733814337530</id><published>2005-05-13T10:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T10:35:26.440-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Panggilan Yang Tergugat</title><content type='html'>Ketika dunia tak lagi ramah bagi kehidupan&lt;br /&gt;Ketika kata kasin semakin teramat mahal&lt;br /&gt;Ketika sang ilahi dijadikan tameng kerakusan&lt;br /&gt;Ketika manusia berlomba mengemudikan jaga raya&lt;br /&gt;Ingin kami menyatkan sebentuk hidup bermakna cinta&lt;br /&gt;Meski aku dan kami akan menuai hujatan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lari dari kenyataan hidup …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembunyi bertopang kemunafikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egois …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut mengarungi kerasnya perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari kebahagiaan diri nan semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan berjuta gugatan menghunjam tiada henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SebabKami bukanlah kaum yang terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bukanlah kawan yang tak punya rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pula manusia tak bercela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kami bagian dari anda semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang lahir dari rahim pertiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang tersayat perih kala tangisan bumi tergiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meratapi tetesan-tetesan air mata zaman yang tertumpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang mengadu pada asma ilahi bahwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tlah terabaikan …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa hidup tak dapt ditawar dengan segudang berlian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemi serahkan didri seluruhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan …..Talenta …..Cinta yang membara …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang kami miliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kehendak hidup bernilai cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kami ingin bagai burung terbang jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang hinggap di setiap hatiMenyusuri jalur-jalur waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneteskan rasa sesejuk aair sewinduKetika suara tak lagi terdengar di bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita …..Aku …..Engakau dan semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kita membelai ketinggian matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kita mengarungi kedalaman laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adlah kita semua menjalankan roda-roda bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kemasan ragam hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita semuaBerdiri di semua simpangan perjalanan hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab bisikan sunyi Sang Ilahi&lt;br /&gt;Peziarahan mencari makna tlah tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada sebuah titik yang tiada batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkan insan pada harapan yang tak berujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab,Masih ada cinta di bumi kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada kehidupan untuk mengarungiKau …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engakau, dan kita semuaDipanggil mewarnai kehidupan !!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-393645733814337530?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/393645733814337530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2005/05/panggilan-yang-tergugat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/393645733814337530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/393645733814337530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2005/05/panggilan-yang-tergugat.html' title='Panggilan Yang Tergugat'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3612389208690204492.post-9039966907927515031</id><published>2002-02-13T10:46:00.000-08:00</published><updated>2009-09-13T10:47:46.113-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kujelang Remajaku</title><content type='html'>Belasan Tahun Telah Silam&lt;br /&gt;Di Kegelapan Sungai Mencekam&lt;br /&gt;Dalam Buaian Angin Malam&lt;br /&gt;Ketika Embun Basahi Bumi Kelam&lt;br /&gt;Di Kala Purnama Redup Di Peraduan Malam&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keheningan Pudar Diderai Gema Tangisan&lt;br /&gt;Bayi Perempuan Mungil Hadir Di Pangkuan&lt;br /&gt;Ia Imut, Lucu – Menggemaskan&lt;br /&gt;Keluarga Tak Kuasa Tahan Kegembiraan&lt;br /&gt;Mereka Bahagia Bak Sambut Puteri Khayangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bersama Dengan Bergulirnya Masa&lt;br /&gt;    Tak Terasa Usia Ananda Bertambah Pula&lt;br /&gt;    Ia Telah Beranjak Remaja&lt;br /&gt;    Di Ulang Tahunnya Yang Bahagia&lt;br /&gt;    Mari Gembira Sambut Hari Jadinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi Jangan Lena Hai Remaja&lt;br /&gt;    Kebimbangan Telah Melanda&lt;br /&gt;    Pencarian Diri Bergemuruh Di Dada&lt;br /&gt;    Bujuk – Rayu Dunia Mulai Menggoda&lt;br /&gt;    Siaplah Kemana Melangkah Harus Kau Bawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jangan Lupa Melangkah Diiringi Doa&lt;br /&gt;    Ingat Pesan Tuhan Dan Nasehat Keluarga&lt;br /&gt;    Sebab Anak Yang Berbudi Selalu Mengingatnya&lt;br /&gt;    Agar Kebahagiaan Dan Keberhasilan Selalu Berpihak Kepada Anda.&lt;br /&gt;    Amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3612389208690204492-9039966907927515031?l=fidelis.harefa.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelis.harefa.web.id/feeds/9039966907927515031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2002/02/kujelang-remajaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/9039966907927515031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3612389208690204492/posts/default/9039966907927515031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelis.harefa.web.id/2002/02/kujelang-remajaku.html' title='Kujelang Remajaku'/><author><name>Fidelis Harefa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12583533653094710181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04078275335063703333'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>