Statis VS Dinamis

Dunia kita sekarang ini sedang dilanda problem yang sangat dilematis. Di segala bidang kehidupan ada saja konflik yang kerap kali mendatangkan kerugian bahkan kehancuran. Bila diteliti lebih jauh dan lebih spesifik akar dari masalah yang ada lebih sering berujung pada perbedaan pendapat dan orientasi.
Salah satu penyebab dari masalah-masalah yang ada adalah “rasa nyaman yang tertanggu bahkan akan hilang”. Setiap orang mendambakan kenyamanan (save) dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan keluarga, kerja dan bahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut pendapat banyak orang di zaman digital dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, rasa nyaman itu diganggu oleh ketidak siapan menghadapi perubahan yang tiba-tiba.
Perubahan memang selalu terjadi. Itu pertanda bahwa kehidupan kita ini dinamis dan menembus segala permanensi yang terbentuk dalam pikiran dan lingkungan kita. Kebiasaan-kebiasaan yang rasanya membuat kita nyaman, meskipun sesungguhnya tidak relevan lagi akan selalu diperthankan demi sebuah kenyamanan dan menantang segala perubahan yang terbungkus dalam dinamisnya hidup seiring perkembangan zaman.
Statis VS Dinamis merupakan istilah sederhana yang saya kemukakan sebagai sebuah ilustrasi dari sebuah keadaan tidak nyaman. Ketika seseorang merasa terancam oleh situasi dan perkembangan, maka penolakan pun muncul ke permukaan dengan berbagai bentuk. Setiap orang yang melihat ada hal baru yang akan membuat dia tidak nyaman akan masuk ke dalam dunia rasionalisasi untuk membenarkan pola statis yang selama ini cukup nyaman.
Peralihan dunia kita saat ini, dari dunia yang serba manual ke dunia digital mengancam banyak kenyamanan manusia. Mengapa tidak? Banyak hal yang dulunya dikerjakan oleh 10 atau 15 orang dengan waktu yang cukup lama, kini dapat dikerjakan oleh satu atau dua orang dalam waktu yang relatif singkat. Efeknya, perkembangan tidak bisa dibendung lagi dan terus terjadi dalam prosesnya yang dinamis. Orang yang menutup mata dan tidak mau menceburkan diri dalam perubahan itulah yang sering merasa kehilangan rasa aman. Bagaimana kita mengaktualkan masalah ini dalam pola kerja dan pendidikan kita? Gampang. Hanya dengan mengikuti perkembangan dan memahami perkembangan itu sendiri. Meninggalkan pola kita yang statis (tidak perlu mempertahankan status quo) demi sebuah kemajuan. Meskipun sulit karena keterbatasan menerima perubahan tersebut, akan tetapi suatu kebanggaan dan jiwa besar bila kita melihat perubahan itu lebih baik dibandingkan dengan sebuah ketetapan yang tidak berefek banyak dalam meraih sebuah kesuksesan.
Pola pendidikan kita yang dulunya kaku, harus dibenahi dan terus dibenahi untuk menjawab kebutuhan zaman sekarang, termasuk kebutuhan peserta didik, bila kita seorang pendidik. Pola kerja kita yang kaku dan menyita banyak waktu dan melalui birokrasi yang panjang (bila kita seorang pekerja kantoran), hendaknya diobah juga agar kita tidak disebut GAPTEK bahkan istilah popular untuk itu adalah TELMI. Apakah kita harus mempertentangankan STATUS QUO dengan sebuah DINAMIS? Bila kita menjawab “ya” maka kita tidak usah malu kalau kita disebut kuno. Bila kita menjawa “tidak perlu”, berarti anda tidak jauh dari kerajaan surga.
0 komentar: