Recent Articles

Advertisement

  • Rahasia Di Balik Mantra: Membangun Manusia Pembangun


    Motto ini adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna luar biasa. Sepintas kita terjemahkan, “membentuk manusia-manusia yang bersifat membangun”, “memberdayakan manusia-manusia yang kemudian akan memberdayakan manusia-manusia lain”. Dari ungkapan ini, masih banyak lagi uraian kalimat yang mungkin bisa diungkapkan untuk mengartikan motto yang sangat menarik ini.
    Sebuah motto, bila diperjuangkan dan benar-benar dilaksanakan akan dikatakan sebagai petuah atau mantra yang berhasil dan teruji. Tapi bila hanya diungkapkan sebatas kata-kata, menurut saya tidak ada artinya.

    Banyak lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang menggunakan istilah ini. Barangkali hanya dengan sedikit perbedaan kata, tapi mempunyai makna dan tujuan yang sama. Misalnya: “Membangun Manusia Pembangun”, “Mendidik Anak Bangsa”, “Memanusiakan Manusia”, dan banyak lagi istilah-istilah yang puitis yang bertujuan menggugah setiap insan pendidikan untuk mewujudkan manusia-manusia yang berkualitas.
    Apa sebenarnya yang diharapkan dan ditegaskan dalam ungkapan-ungkapan ini? Sumber Daya Manusia (SDM) adalah utama dan terutama dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang berkualitas. Jika lebih difokuskan lagi, misalnya pada lembaga-lembaga pendidikan swasta, maka SDM itu adalah semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan sebuah lembaga pendidikan formal, mulai dari Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, Guru, Pegawai hingga karyawan kantin. Bagi semua yang terlibat dalam pengelolaan ini berlaku standar yang sama demi terjaminnya kualitas pendidikan. Standar itu harus objektif, transparan, sahih, dan berlaku secara sistematik mulai dari saat rekrutmen, SK pengangkatan hingga SK pemberhentian. Dengan standar ini, pemimpin tak bisa lagi seenaknya menilai bawahan sementara dirinya sendiri imun terhadap bentuk penilaian apa pun. (John de Santo: Educare No. 3/VI/Juni 2009, hal. 25).
    Membangun Manusia Pembangun, Mendidik Anak Bangsa atau istilah lain yang dipakai untuk ungkapan mantra pendidikan semuanya tidak berguna kalau SDM itu tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membangun manusia yang sanggup membangun di masa depan, sementara SDM kita saat ini tidak dilatih, tidak diperkaya, tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membentuk manusia-manusia yang tangguh di masa depan, namun saat ini kita dikelilingi oleh manusia-manusia yang berkarakter “YES MAN” dan tidak punya visi dalam menjalankan pendidikan. Kita berteriak untuk menasehati tenaga pendidik kita, sementara kita sendiri tertutup terhadap hal-hal baru yang berkembang, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

    Kalau demikian, untuk apa kita mengumandangkan slogan-slogan yang hanya membuat banyak orang menertawakan diri kita sendiri? Untuk apa kita bekerja kalau ujung-ujungnya hanya memperjuangkan popularitas diri dan tidak memperhatikan kepentingan orang banyak?
    Tugas kita saat ini adalah membangun manusia yang sungguh-sungguh sanggup mandiri, bertanggung jawab dan punya visi di masa yang akan datang. Bukan membentuk manusia-manusia yang bermental “yes man” yang bisa terombang-ambing dalam menghadapi masalah kehidupan. Dan perlu diingat, kunci utama dari terlaksananya semuanya ini bukan UANG. Uang hanya sebagai penunjang terlaksananya proses pendidikan. Yang menjadi kunci utama adalah SDM baik pengelola, pendidik sampai kepada peserta didik.
    Kita tidak perlu muluk-muluk membangun gedung megah, sementara mutu pendidikan kita pas-pasan. Jika demikian, kita hanya membuka celah bagi orang lain untuk terlibat dalam kebodohan kita dan ikut membodohkan kita.
    Dalam dunia pendidikan kita saat ini, masih banyak yang menjadikan pemimpin sebagai kunci keberhasilan. Mengapa? Selain mental bawahan sebagai manusia yang takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan masa depan, juga karena pemimpin tidak tahu bagaimana harus memimpin dan mengelola.
    Apa yang dikatakan oleh John de Santo, staf Pengajar ASMI Santa Maria Yogyakarta tentang SDM dan Kepemimpinan dalam Educare No. 3/VI/Juni 2009 adalah tepat. SDM adalah syarat primer bagi terciptanya pendidikan bermutu. Namun SDM yang berkualitas harus dibarengi dengan kepemimpinan yang cerdas untuk memanfaatkannya.
    Idealnya pemimpin puncak sebuah lembaga pendidikan formal seharusnya tumbuh dari bawah. Ia adalah bagian dari riwayat perjalanan lembaga pendidikan itu dan hasil akhir dari proses evolutif seleksi alamiah. Mengadopsi cara pandang Darwinian, pemimpin adalah puncak evolusi yang mengenal satu hukum: survival for the fittest.
    Sebaliknya, legalitas kepemimpinan berdasarkan top down appointment, selain tidak menjamin tercapainya pendidikan bermutu, dapat membahayakan keseimbangan organisasi. Siapa pun dia, bukan bagian dari proses evolusi sebuah organisasi. Untuk menutup kelemahan sang pemimpin karbitan, menciptakan mekanisme pertahanan diri. Pembebek dan penghitung laba memetik keuntungan dengan mengiyakan kemauan pemimpin. Mereka menyuguhkan informasi yang menyenangkan hati. Pemimpin akan kehilangan sense of rality, merasa dirinya selalu benar. Tak ada lagi sistem yang bisa mengendalikannya karena ia adalah sistem itu sendiri. Kualitas pendidikan hanya utopia.
    Tulisan John de Santo barangkali bisa menjadi sarana mujarab untuk mengoreksi sistem pendidikan kita saat ini, terlebih-lebih bagi lembaga pendidikan swasta dan secara khusus pada sistem pendidikan katolik. Kita harus yakin bahwa pepatah: “Tiada Gading yang Tak Retak” yang sudah lama bergema dalam tradisi kita benar. Karena, sebesar apapun kepercayaan diri kita mengatakan bahwa kita benar, tetap juga tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Dan sebagai cara paling ampuh untuk membenahi itu adalah evaluasi yang jujur dan bertanggung jawab.

0 komentar:

Leave a Reply

FIVEHARMONY.CO.ID

Recent Posts