Perubahan Itu Perlu

Judul ini bukan merupakan sebuah ungkapan biasa. Bukan pula seperti kata-kata iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Ungkapan di atas merupakan sebuah keharusan untuk saat ini.
Yang menjadi permasalahan sekarang adalah kesulitan segelintir orang menghadapi perubahan. Barangkali terbentur masalah ketidak-siapan mental menghadapi perubahan itu sendiri. Bisa juga ada hubungannya dengan rasa nyaman.
Tidak sedikit orang menantang perubahan itu terjadi. Berbagai alasan bisa muncul. Kalimat-kalimat yang dominan barangkali seperti ini: “Kalau kami dulu…..”, “Kami sudah terbiasa begini koq…”, “Kami bisa begini koq, ngapain harus ada perubahan…”.
Memang sebuah perubahan membutuhkan pengorbanan, juga membutuhkan perjuangan. Tidak segampang mengatakanya untuk melakukannya. Menurut saya, sebuah perubahan hanya terjadi bila setiap orang sanggup melakukan evaluasi dan penilaian terhadap apa yang selama ini terjadi, apa yang selama ini berlaku. Bila setiap orang tidak sanggup mengevaluasi dan tidak bijak untuk memberi penilaian akan masa lalu, inilah orang-orang yang cenderung mempertahankan status quo dan tidak ingin maju.
Bia seseorang tidak mendambakan perubahan, itu artinya orang itu mengurung diri dalam keterbelakangan dan tidak membuka mata untuk perkembangan zaman. Dan bila orang ini hadir dalam sebuah organisasi atau instansi apa pun, apalagi kalau dia bertindak sebagai penanggung jawab, saya berani mengatakan bahwa organisasi tersebut tidak akan berkembang. Boleh dikatakan organisasi tersebut lambat-laun akan makin ketinggalan.
Mengapa susah untuk berubah? Andai saja membuka diri, membuka pikiran, dan mendengarkan, perubahan itu gampang koq. Perubahan itu sudah menjadi milik. Tapi kalau poin-poin tersebut di atas sulit dilaksanakan, perubahan pun semakin jauh dari kita.
Di negara ini, kita harus bisa menjadi orang yang visioner, bukan menjadi orang yang hanya sebagai “YES MAN” aja. Kita harus punya prinsip dalam hidup sehingga kita tidak menderita dalam keadaan yang tidak menentu.
Ingin sebuah perubahan? Harus keluar dari egoisme kita, keluar dari tahta popularitas yang memperbudak, keluar dari lingkungan yang mengkotak-kotakkan antara yang mayoritas dan minoritas. Dan yang paling penting adalah, terbuka terhadap perubahan itu sendiri.
Orang yang terbuka terhadap perubahan sanggup melihat titik terang dalam kegelapan, sanggup menyedot air bening dalam kekeruhan dan sanggup menemukan kegembiraan dalam suasana gundah gulana. Apakah anda termasuk orang itu?
0 komentar: