Recent Articles

Advertisement

  • Bulan Kitab Suci Nasional 2009
    Bulan September 2009 ini, Gereja Katolik memasuki Bulan Kitab Suci Nasioanl. Sebagaimana biasanya, para pemimpin Gereja mengajukan agar umat meluangkan waktu yang lebih banyak lagi dibandingkan dengan hari-hari lainnya untuk mendalami Kitab Suci. Tema BKSN 2009 mengetengahkan "Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia".

    Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia dijabarkan lagi dalam empat sub-tema. Dan seperti kebiasaan umat katolik, keempat sub-tema itu didalami secara bersama dalam kelompok melalui pendalaman Kitab Suci.

    Pertemuan pertama dengan mengetengahkan tema: "Pergumulan Yakub dengan Esau". Topik ini ingin mengatakan kepada kita bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan BERKAT itu. Yang menjadi soal adalah bagaimana kita menanggapi berkat itu, apakah menganggapnya sepele atau biasa-biasa saja. Bagaimana partisipasi kita untuk menyambut rahmat tersebut dan bagaimana kita menjaga agar berkat tersebut berbuah. Tokoh Yakub dan Esau adalah dua tokoh yang menanggapi BERKAT itu secara berbeda. Diawali dari sebuah tindakan "menganggap tidak berguna hak kesulungan" yang dimiliki oleh Esau dan akhirnya dijual kepada Yakub demi semangkok kacang merah. Hak kesulungan membawa serta paket-paket rahmat lainnya yang dalam topik ini disampaikan oleh Ishak pada Yakub.

    Pertemuan kedua, mengajak kita untuk ikut dalam pengalaman Yakub bertemu dengan Allah. Pertemuan dengan Allah boleh terjadi di mana saja. Tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana kita mengalami Allah secara lebih kuat. Yakub memberikan model bagi kita untuk melihat hal itu lebih jelas dalam kehidupan kita sekarang ini. Rumah Tuhan, Gereja tempat kita mengalami Allah secara lebih kuat. Meskipun ada tempat lain yang bisa memungkinkan kita mengalami Allah.

    Pertemuan ketiga, Yakub mengalami kesulitan dan tantangan dalam kehidupan sosial. Pengalaman cinta, hak dan pengakuan yang menuntut pengorbanan. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan dalam perjuangan itu kita tetap diingatkan pada janji Allah, yakni sebuah tempat idaman, tanah terjanji yang telah disediakan oleh-Nya.

    Pertemuan keempat menegaskan kemanuasiaan Yakub. Rasa takut tidak terobati dengan menghindar atau melarikan diri. Rasa takut tetap ada kalau dihadapi hanya dengan cara melarikan diri dari kenyataan. Segala persoalan harus dihadapi dan diselesaikan dalam dan bersama Allah.

    Beberapa butir pendalaman diatas adalah salah satu bentuk refleksi yang masih mungkin lebih kaya, bila bapak, ibu, saudara sendiri yang bergumul dengan Allah bersama pengalamannya Yakub, bapak segala bangsa.

    more
  • Rahasia Di Balik Mantra: Membangun Manusia Pembangun
    Motto ini adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna luar biasa. Sepintas kita terjemahkan, “membentuk manusia-manusia yang bersifat membangun”, “memberdayakan manusia-manusia yang kemudian akan memberdayakan manusia-manusia lain”. Dari ungkapan ini, masih banyak lagi uraian kalimat yang mungkin bisa diungkapkan untuk mengartikan motto yang sangat menarik ini.
    Sebuah motto, bila diperjuangkan dan benar-benar dilaksanakan akan dikatakan sebagai petuah atau mantra yang berhasil dan teruji. Tapi bila hanya diungkapkan sebatas kata-kata, menurut saya tidak ada artinya.

    Banyak lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang menggunakan istilah ini. Barangkali hanya dengan sedikit perbedaan kata, tapi mempunyai makna dan tujuan yang sama. Misalnya: “Membangun Manusia Pembangun”, “Mendidik Anak Bangsa”, “Memanusiakan Manusia”, dan banyak lagi istilah-istilah yang puitis yang bertujuan menggugah setiap insan pendidikan untuk mewujudkan manusia-manusia yang berkualitas.
    Apa sebenarnya yang diharapkan dan ditegaskan dalam ungkapan-ungkapan ini? Sumber Daya Manusia (SDM) adalah utama dan terutama dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang berkualitas. Jika lebih difokuskan lagi, misalnya pada lembaga-lembaga pendidikan swasta, maka SDM itu adalah semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan sebuah lembaga pendidikan formal, mulai dari Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, Guru, Pegawai hingga karyawan kantin. Bagi semua yang terlibat dalam pengelolaan ini berlaku standar yang sama demi terjaminnya kualitas pendidikan. Standar itu harus objektif, transparan, sahih, dan berlaku secara sistematik mulai dari saat rekrutmen, SK pengangkatan hingga SK pemberhentian. Dengan standar ini, pemimpin tak bisa lagi seenaknya menilai bawahan sementara dirinya sendiri imun terhadap bentuk penilaian apa pun. (John de Santo: Educare No. 3/VI/Juni 2009, hal. 25).
    Membangun Manusia Pembangun, Mendidik Anak Bangsa atau istilah lain yang dipakai untuk ungkapan mantra pendidikan semuanya tidak berguna kalau SDM itu tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membangun manusia yang sanggup membangun di masa depan, sementara SDM kita saat ini tidak dilatih, tidak diperkaya, tidak diperhatikan. Kita bercita-cita membentuk manusia-manusia yang tangguh di masa depan, namun saat ini kita dikelilingi oleh manusia-manusia yang berkarakter “YES MAN” dan tidak punya visi dalam menjalankan pendidikan. Kita berteriak untuk menasehati tenaga pendidik kita, sementara kita sendiri tertutup terhadap hal-hal baru yang berkembang, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

    Kalau demikian, untuk apa kita mengumandangkan slogan-slogan yang hanya membuat banyak orang menertawakan diri kita sendiri? Untuk apa kita bekerja kalau ujung-ujungnya hanya memperjuangkan popularitas diri dan tidak memperhatikan kepentingan orang banyak?
    Tugas kita saat ini adalah membangun manusia yang sungguh-sungguh sanggup mandiri, bertanggung jawab dan punya visi di masa yang akan datang. Bukan membentuk manusia-manusia yang bermental “yes man” yang bisa terombang-ambing dalam menghadapi masalah kehidupan. Dan perlu diingat, kunci utama dari terlaksananya semuanya ini bukan UANG. Uang hanya sebagai penunjang terlaksananya proses pendidikan. Yang menjadi kunci utama adalah SDM baik pengelola, pendidik sampai kepada peserta didik.
    Kita tidak perlu muluk-muluk membangun gedung megah, sementara mutu pendidikan kita pas-pasan. Jika demikian, kita hanya membuka celah bagi orang lain untuk terlibat dalam kebodohan kita dan ikut membodohkan kita.
    Dalam dunia pendidikan kita saat ini, masih banyak yang menjadikan pemimpin sebagai kunci keberhasilan. Mengapa? Selain mental bawahan sebagai manusia yang takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan masa depan, juga karena pemimpin tidak tahu bagaimana harus memimpin dan mengelola.
    Apa yang dikatakan oleh John de Santo, staf Pengajar ASMI Santa Maria Yogyakarta tentang SDM dan Kepemimpinan dalam Educare No. 3/VI/Juni 2009 adalah tepat. SDM adalah syarat primer bagi terciptanya pendidikan bermutu. Namun SDM yang berkualitas harus dibarengi dengan kepemimpinan yang cerdas untuk memanfaatkannya.
    Idealnya pemimpin puncak sebuah lembaga pendidikan formal seharusnya tumbuh dari bawah. Ia adalah bagian dari riwayat perjalanan lembaga pendidikan itu dan hasil akhir dari proses evolutif seleksi alamiah. Mengadopsi cara pandang Darwinian, pemimpin adalah puncak evolusi yang mengenal satu hukum: survival for the fittest.
    Sebaliknya, legalitas kepemimpinan berdasarkan top down appointment, selain tidak menjamin tercapainya pendidikan bermutu, dapat membahayakan keseimbangan organisasi. Siapa pun dia, bukan bagian dari proses evolusi sebuah organisasi. Untuk menutup kelemahan sang pemimpin karbitan, menciptakan mekanisme pertahanan diri. Pembebek dan penghitung laba memetik keuntungan dengan mengiyakan kemauan pemimpin. Mereka menyuguhkan informasi yang menyenangkan hati. Pemimpin akan kehilangan sense of rality, merasa dirinya selalu benar. Tak ada lagi sistem yang bisa mengendalikannya karena ia adalah sistem itu sendiri. Kualitas pendidikan hanya utopia.
    Tulisan John de Santo barangkali bisa menjadi sarana mujarab untuk mengoreksi sistem pendidikan kita saat ini, terlebih-lebih bagi lembaga pendidikan swasta dan secara khusus pada sistem pendidikan katolik. Kita harus yakin bahwa pepatah: “Tiada Gading yang Tak Retak” yang sudah lama bergema dalam tradisi kita benar. Karena, sebesar apapun kepercayaan diri kita mengatakan bahwa kita benar, tetap juga tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Dan sebagai cara paling ampuh untuk membenahi itu adalah evaluasi yang jujur dan bertanggung jawab.

    more
  • Perubahan Itu Perlu
    Judul ini bukan merupakan sebuah ungkapan biasa. Bukan pula seperti kata-kata iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Ungkapan di atas merupakan sebuah keharusan untuk saat ini.
    Yang menjadi permasalahan sekarang adalah kesulitan segelintir orang menghadapi perubahan. Barangkali terbentur masalah ketidak-siapan mental menghadapi perubahan itu sendiri. Bisa juga ada hubungannya dengan rasa nyaman.

    Tidak sedikit orang menantang perubahan itu terjadi. Berbagai alasan bisa muncul. Kalimat-kalimat yang dominan barangkali seperti ini: “Kalau kami dulu…..”, “Kami sudah terbiasa begini koq…”, “Kami bisa begini koq, ngapain harus ada perubahan…”.
    Memang sebuah perubahan membutuhkan pengorbanan, juga membutuhkan perjuangan. Tidak segampang mengatakanya untuk melakukannya. Menurut saya, sebuah perubahan hanya terjadi bila setiap orang sanggup melakukan evaluasi dan penilaian terhadap apa yang selama ini terjadi, apa yang selama ini berlaku. Bila setiap orang tidak sanggup mengevaluasi dan tidak bijak untuk memberi penilaian akan masa lalu, inilah orang-orang yang cenderung mempertahankan status quo dan tidak ingin maju.
    Bia seseorang tidak mendambakan perubahan, itu artinya orang itu mengurung diri dalam keterbelakangan dan tidak membuka mata untuk perkembangan zaman. Dan bila orang ini hadir dalam sebuah organisasi atau instansi apa pun, apalagi kalau dia bertindak sebagai penanggung jawab, saya berani mengatakan bahwa organisasi tersebut tidak akan berkembang. Boleh dikatakan organisasi tersebut lambat-laun akan makin ketinggalan.
    Mengapa susah untuk berubah? Andai saja membuka diri, membuka pikiran, dan mendengarkan, perubahan itu gampang koq. Perubahan itu sudah menjadi milik. Tapi kalau poin-poin tersebut di atas sulit dilaksanakan, perubahan pun semakin jauh dari kita.
    Di negara ini, kita harus bisa menjadi orang yang visioner, bukan menjadi orang yang hanya sebagai “YES MAN” aja. Kita harus punya prinsip dalam hidup sehingga kita tidak menderita dalam keadaan yang tidak menentu.
    Ingin sebuah perubahan? Harus keluar dari egoisme kita, keluar dari tahta popularitas yang memperbudak, keluar dari lingkungan yang mengkotak-kotakkan antara yang mayoritas dan minoritas. Dan yang paling penting adalah, terbuka terhadap perubahan itu sendiri.
    Orang yang terbuka terhadap perubahan sanggup melihat titik terang dalam kegelapan, sanggup menyedot air bening dalam kekeruhan dan sanggup menemukan kegembiraan dalam suasana gundah gulana. Apakah anda termasuk orang itu?

    more
  • Statis VS Dinamis
    Dunia kita sekarang ini sedang dilanda problem yang sangat dilematis. Di segala bidang kehidupan ada saja konflik yang kerap kali mendatangkan kerugian bahkan kehancuran. Bila diteliti lebih jauh dan lebih spesifik akar dari masalah yang ada lebih sering berujung pada perbedaan pendapat dan orientasi.

    Salah satu penyebab dari masalah-masalah yang ada adalah “rasa nyaman yang tertanggu bahkan akan hilang”. Setiap orang mendambakan kenyamanan (save) dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan keluarga, kerja dan bahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut pendapat banyak orang di zaman digital dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, rasa nyaman itu diganggu oleh ketidak siapan menghadapi perubahan yang tiba-tiba.
    Perubahan memang selalu terjadi. Itu pertanda bahwa kehidupan kita ini dinamis dan menembus segala permanensi yang terbentuk dalam pikiran dan lingkungan kita. Kebiasaan-kebiasaan yang rasanya membuat kita nyaman, meskipun sesungguhnya tidak relevan lagi akan selalu diperthankan demi sebuah kenyamanan dan menantang segala perubahan yang terbungkus dalam dinamisnya hidup seiring perkembangan zaman.
    Statis VS Dinamis merupakan istilah sederhana yang saya kemukakan sebagai sebuah ilustrasi dari sebuah keadaan tidak nyaman. Ketika seseorang merasa terancam oleh situasi dan perkembangan, maka penolakan pun muncul ke permukaan dengan berbagai bentuk. Setiap orang yang melihat ada hal baru yang akan membuat dia tidak nyaman akan masuk ke dalam dunia rasionalisasi untuk membenarkan pola statis yang selama ini cukup nyaman.
    Peralihan dunia kita saat ini, dari dunia yang serba manual ke dunia digital mengancam banyak kenyamanan manusia. Mengapa tidak? Banyak hal yang dulunya dikerjakan oleh 10 atau 15 orang dengan waktu yang cukup lama, kini dapat dikerjakan oleh satu atau dua orang dalam waktu yang relatif singkat. Efeknya, perkembangan tidak bisa dibendung lagi dan terus terjadi dalam prosesnya yang dinamis. Orang yang menutup mata dan tidak mau menceburkan diri dalam perubahan itulah yang sering merasa kehilangan rasa aman. Bagaimana kita mengaktualkan masalah ini dalam pola kerja dan pendidikan kita? Gampang. Hanya dengan mengikuti perkembangan dan memahami perkembangan itu sendiri. Meninggalkan pola kita yang statis (tidak perlu mempertahankan status quo) demi sebuah kemajuan. Meskipun sulit karena keterbatasan menerima perubahan tersebut, akan tetapi suatu kebanggaan dan jiwa besar bila kita melihat perubahan itu lebih baik dibandingkan dengan sebuah ketetapan yang tidak berefek banyak dalam meraih sebuah kesuksesan.
    Pola pendidikan kita yang dulunya kaku, harus dibenahi dan terus dibenahi untuk menjawab kebutuhan zaman sekarang, termasuk kebutuhan peserta didik, bila kita seorang pendidik. Pola kerja kita yang kaku dan menyita banyak waktu dan melalui birokrasi yang panjang (bila kita seorang pekerja kantoran), hendaknya diobah juga agar kita tidak disebut GAPTEK bahkan istilah popular untuk itu adalah TELMI. Apakah kita harus mempertentangankan STATUS QUO dengan sebuah DINAMIS? Bila kita menjawab “ya” maka kita tidak usah malu kalau kita disebut kuno. Bila kita menjawa “tidak perlu”, berarti anda tidak jauh dari kerajaan surga.

    more
  • Pemahaman Tentang Berkat
    Gereja sebagai sakramen induk bukanlah barang mati dan statis. Jemaah Kristen merupakan suatu masyarakat manusia yang dinamis. Ia mempertahankan, mewujudkan dan memperluas dirinya dengan berbagai kegiatan dan tindakan Kristus.

    Tentu saja tidak semua tindakan yang dengannya Gereja merealisasikan dirinya dalam Gereja sebagai “sakramen penyelamatan” (sakramen induk), meskipun barangkali, ditinjau dari segi lain, sama penting dan perlu, supaya Gereja direalisasikan secara menyeluruh. Dengan lain perkataan “sakramentalitas” Gereja dapat menjadi terwujud dengan pelbagai tingkat. Meskipun semua “sakramental”, namun tidak semua menjadi “sakramen”, mungkin hanya termasuk pada bagian sakramentali saja.

    Download artikel ini lebih lengkap.

    more
  • Memaknai Penderitaan
    Kitab Suci Kristen melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.
    Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat?

    Pertanyaan-pertanyaan refleksif di atas tadi mengajak kita untuk mencoba mengerti dan memahami makna penderitaan di bumi dan bagaimana iman Gereja berbicara tentang penderitaan manusia di bumi. Penderitaan bagi kebanyakan orang selalu dihubungkan dengan dosa (hukuman Tuhan) sedangkan sebagian lagi memahami penderitaan secara positif yakni sebagai batu uji menuju keselamatan.
    Beberapa Pandangan Tentang Penderitaan
    Menurut Kitab Suci, penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikehendaki baik berhubungan dengan fisik maupun psikis. Penderitaan ini bisa mencakup penderitaan fisik, emosional, penderitaan karena orang lain atau demi orang lain. Mengapa manusia menderita? Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama melukiskan bahwa penderitaan tidak dikehendaki Allah. Dasar biblisnya yakni Kej. 3:1-24 yang mengungkapkan bahwa Allah pencipta tidak menghendaki adanya penderitaan. Demikian juga dengan Kej. 1:1-2:4.a yang mengatakan bahwa, Allah melihat bahwa semuanya baik. Penderitaan dan kematian justru ada setelah manusia jatuh dalam dosa dan diusir oleh Allah dari Taman Eden (Firdaus) Kej. 2:4.a-3:24.
    Penderitaan dalam arti umum dan mendasar merupakan bagian dari penderitaan manusia. Penderitaan itu mencakup keseluruhan hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani (somatis-psikologis karena antara keduanya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain lain). Dari kaca mata psiko-spiritual melihat bahwa penderitaan jasmani tidak melulu hanya disebabkan oleh hal-hal atau faktor fisik melulu tetapi juga dipengaruhi sikap hidup, perasaan, relasi dan konflik.
    Maka benar apa yang dikatakan Plato bahwa kesalahan besar pengobatan sakit jasmani adalah bahwa dokter melalaikan keseluruhan. Hubungan erat antara sakit jasmani dan rohani ini juga diakui oleh beberapa responden yang pernah kami wawancarai. Misalnya sakit kanker, demam berdarah, akan selalu mempunyai efek lain pada kondisi emosional, kondisi psikologisnya.
    Belajar dari kebijaksanaan zaman dulu bahwa kesehatan yang benar dan sejati tercapai apabila orang hidup dalam harmonis dengan dirinya, orang lain dan lingkunganya dan tetap bersikap seimbang menhadapi perubahan-perubahan dan tantangan dan mengembangkan kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Atau dengan kata lain, sehat mencakup keseluruhan dan utuh (wholeness).
    Penderitaan sendiri pada dirinya tidak pernah baik tetapi menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyembuhkannya. Penderitaan mestinya diterima sebagai sumber kekuatan untuk mentransformasi diri dan membiarkan penderitaan itu meragi diri kita.
    Yesus sendiri menerima salib, penderitaan dan kematianNya dan akhirnya menjadi saluran cinta yang membebaskan. Maka bagi orang kristen salib yang diterima seharusnya menjadi sarana yang membebaskan. Dan dengan salib itu, kita juga membiarkan kekuatan yang sama mengalir. Memang tidak semua penderitaan adalah salib tetapi setiap penderitaan dapat ditebus oleh salib.
    Pandangan moral katolik cenderung memahami penderitaan dalam kaitannya dengan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia. Penderitaan tidaklah semata-mata karena kelemahan biologis manusiawi tetapi juga terjadi karena dosa.
    Setelah memahami beberapa pandangan tentang penderitaan di atas, apakah pandangan kita tentang penderitaan itu sendiri? Adakah kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa-dosa kita? Adakah kita melihat penderitaan sebagai sebuah ketidakadilan dari pihak Allah? Adakah penderitaan kita lihat sebagai awal sesuatu yang baru? Apakah Tuhan menciptakan penderitaan?
    Saya kira jawabannya tetap menjadi suatu misteri. Namun untuk mengerti hal ini, kita mesti memahami ungkapan dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi, terang dan gelap, kebaikan dan penderitaan. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu, Allah berkuasa atas seluruh jagat raya dan yang ditekankan lagi yakni ke-Esa-an Allah. Ungkapan pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan privelege Allah. Ini berarti penderitaan itu sendiri misteri yang hanya dapat dimengerti dan diselami dengan hati penuh iman akan kasih Tuhan yang senantiasa berlimpah untuk manusia.
    Memaknai Penderitaan
    Kalau penderitaan sebagai akibat dari dosa dan atau sebagai bagian dari kehidupan manusia seperti dituturkan di atas, apakah kita menerima atau menolak penderitaan begitu saja?
    Penderitaan tidak hanya bernilai negatif melainkan juga mengandung nilai positif. Nilai positifnya: penderitaan merupakan sarana pendidikan. Allah memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan, orang dituntun kembali pada kebahagiaan dan kesetiaan. Penderitaan juga berperan sebagai batu uji untuk memurnikan manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Melalui pendertiaan, Allah mengharapkan manusia untuk merubah pola laku dan untuk makin paham akan nilai atau makna cinta dan kehidupan.
    Lebih dari itu, setiap penderitaan, sakit dan atau musibah yang terjadi dapat menjadi koreksi bagi setiap orang. Koreksi akan apa yang pernah dilakukan di masa yang lalu demi masa depan yang lebih baik. Orang yang berpikir jernih dan profesional tidak perlu melemparkan kesalahan kepada orang lain kalau menemui kesulitan. Tidak perlu mencari tumbal, yang menjadi korban sebagai pelampiasan amarah, rasa kecewa atau sakit hati. Karena, berbuat demikian, bukannya mengurangi penderitaan tetapi malah semakin masuk ke dalam penderitaan itu dan hidup dalam kecemasan dan kegelisahan batin yang tak henti-hentinya.
    Penderitaan bisa saja datang dalam berbagai bentuk yang sederhana. Saat harga diri terancam, saat keinginan kita tidak tercapai, saat ada orang yang menghambat kecenderungan kita, saat ada orang yang mengetahui dan mengorek kesalahan kita, dll. Semua itu datang dalam porsinya masing-masing. Menutup mata dan diri terhadap semua itu tidak membawa perubahan, malah akan membawa ke kehancuran yang kekal dan pada akhirnya jatuh dan malu.
    Masalah, musibah, penyakit dan aneka macam hal yang merugikan dapat dilihat sebagai acuan untuk mengoreksi diri. Perlu pembuktian dan menggali maknanya. Yang disayangkan adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama dalam melihat penderitaan.
    Berhadapan dengan pengalaman derita manusia atas penderitaan, Gereja ditantang untuk menunjukkan sikap yang benar dan tepat. Gereja mesti mengikuti teladan Yesus yang dengan murah hati melayani dan menyembuhkan orang sakit dan menderita. Meneladani jiwa dan teologi kegembalaan Yesus yang mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, bukan membiarkan atau mengusirnya. Gereja mesti menunjukkan diri sebagai sarana keselamatan dengan menjalankan Tugas Gereja Membimbing, Memimpin, dan Menguduskan melalui pelayanan sakramen-sakramen, khususnya sakramen-sakramen Penyembuhan (Pengurapan dan Tobat).**(fidelis harefa)

    more

FIVEHARMONY.CO.ID

Recent Posts